Skip to content

Kata Dirlantas, Ini yang Ditakuti Pengguna Jalan di Jakarta

11 Agustus 2016

edo dan dirlantas pmj_ist

PENAMPILANNYA bersahaja. Seragam coklat yang membalut di tubuhnya sudah berbicara bahwa sosok ini adalah aparat penegak hukum. Di pingganggnya menggantung sepucuk pistol dengan sarung berwarna putih.

“Kami harus mempersenjatai diri karena risiko polisi lalu lintas adalah yang terdepan dalam menghadapi ancaman keamanan seperti bahaya teroris,” seloroh Komisaris Besar (Kombes) Polisi Syamsul Bahri, direktur Lalu Lintas Ditlantas Polda Metro Jaya, saat berbincang dengan saya, di salah satu hotel, di Jakarta, baru-baru ini.

Putra Aceh berkumis tebal ini mencontohkan seperti kasus bom Sarinah di Jakarta Pusat. Saat aksi teroris itu sejumlah polisi lalu lintas (polantas) menjadi korban. Padahal, mereka sedang ingin membantu masyarakat. “Salah mereka apa. Korban kini dalam kondisi lumpuh,” papar pria menyuka motor trail tersebut.

Perbincangan kami lalu bergeser soal pentingnya keselamatan berlalu lintas jalan. Sebagai Dirlantas di Ibukota Republik Indonesia, tentu saja peran Syamsul Bahri amat disoroti.

Kemampuannya menjamin keselamatan, kenyamanan, dan keamanan di jalan raya diuji. “Saya sebelumnya pernah menjadi dirlantas di dua wilayah berbeda, salah satunya di Bali,” sergah polisi yang mengaku lebih gemar turun ke lapangan daripada duduk di belakang meja itu.

Dia pun bercerita, peran polisi harus disinergikan dengan para pemangku kepentingan lainnya. Bahkan, termasuk dengan masyarakat para pengguna jalan. “Termasuk juga dengan para pegiat keselamatan jalan,” papar pria yang saat di akademi gemar berolahraga sepak bola itu.

Menurut dia, para pengguna jalan, terlebih di Jakarta, saat ini seakan tidak takut menghadapi sanksi tilang. Pengguna jalan seakan mudah tersulut emosinya. “Saya pernah dimaki pengguna jalan ketika hendak berbelok. Tapi, saya bilang ke sopir saya untuk tidak meladeninya,” ujar dia.
Para pengguna jalan, katanya, kini lebih takut terkena kecelakaan lalu lintas jalan ketimbang dikenai sanksi tilang. “Kalau tilang, mereka bisa langsung bayar,” tegas dia.

Ke depan, ujarnya, pemanfaatan teknologi informasi dan kamera CCTV sudah tidak dapat dibendung lagi. Penerapan teknologi itu dapat ikut membantu mengatur lalu lintas jalan, bahkan memperkecil terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. “Keberadaan fasilitas dan perlengkapan jalan, dalam hal ini fitur pengawasan di jalan tentunya harus ditingkatkan, untuk semakin meminimalisir jatuhnya korban,” kata Syamsul Bahri, seperti dilansir rmol.co.

Dia mencontohkan, pemanfaatan teknologi itu dapat diterapkan dalam sistem electronic road pricing (ERP) di Jakarta.

Oh ya, Jakarta dan sekitarnya, yakni wilayah Polda Metro Jaya, masih memiliki catatan kelam di jalan raya. Sepanjang 2012-2015, di wilayah Polda Metro Jaya tercatat lebih dari 26 ribu kasus kecelakaan. Kasus itu berujung menewaskan sekitar 2.800 jiwa dan melukai lebih dari 29 ribu pengguna jalan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: