Skip to content

Fakta Menarik Pesepeda Motor di Kolombia

10 Agustus 2016
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

SEPEDA motor hadir hampir di seluruh negara di dunia. Entah itu di negara berkembang maupun negara maju, begitu juga di Kolombia, Amerika Latin.

Kolega saya yang gemar berkeliling dunia, Efi, punya cerita menarik tentang fakta pesepeda motor di negara yang menjadi kiblat bus Trans Jakarta itu.

Perempuan muda yang sempat mengenyam sebagai jurnalis itu menceritakan pengalamannya yang dia kirimkan via email ke saya, baru-baru ini. Selain cerita, Efi juga mengirimkan foto yang diambilnya pada 6 Agustus 2016 di kota Tulua, Kolombia.

Begini ceritanya.

Kolombia menjadi negara pertama di mana saya berkendara aktif di jalur kanan jalan. Sudah pasti saya kagok pertama kali harus menunggang motor. Rasanya, kok, salah jalan dan seperti melawan arah. Butuh sekitar dua minggu saya bisa beradaptasi dan tidak lagi kagok.

Sebenarnya kalau kita sudah mahir berkendara di Jakarta kita pasti tidak akan punya kesulitan berarti saat berada di negara orang. Ya, penyesuaian pasti adalah, seperti memahami karakter berkendara suatu negara dan juga tata tertibnya.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya saat mengemudikan kendaraan di Kolombia adalah stiker nomor kendaraan yang tertempel di bagian belakang helm pengemudi dan penumpang motor. Tidak hanya itu, pengandara pun memakai rompi high visibility berwarna terang plus nomor kendaraan tertempel dipunggungnya.

Selidik punya selidik, peraturan ini dibuat karena tingginya tingkat kriminalitas di jalan raya Kolombia. Tindak kejahatan biasanya dilakukan oleh pengemudi kendaraan roda dua, dengan adanya stiker yang tersemat pada helm dan rompi memudahkan indentifikasi pelaku.

Aturan lain yang bikin saya agak mengernyit adalah larangan bagi pria berada di kursi penumpang. Hal itu untuk menekan jumlah aksi kejahatan menggunakan senapan api. Katanya tindakan main tembak di jalan raya dan pelakunya langsung kabur cukup lumrah terjadi di Kolombia.

Semua aturan ini harus dipatuhi oleh penduduk. Bagaimana dengan pelancong? Dari sebuah forum pejalan yang menggunakan sepeda motor di Amerika Selatan saya membaca kalau sebenarnya turis terbebas dari aturan ini, tetapi tetap disarankan untuk juga memasang stiker baik di helm juga membeli rompi.

Selain kita terhindar diberhentikan polisi di tengah jalan, juga kedua benda tersebut bisa dijadikan kenang-kenangan. Dengan cara ini pula, kita bisa lebih membumi dan tidak ketara sebagai orang asing dan menurunkan potensi menjadi korban tindak kejahatan.

Untuk menambahkan stiker tidak terlalu mahal hanya perlu merogoh kocek 2.000 COP atau sekitar 10 ribu IDR. Sementara untuk rompi harganya bervariasi paling mahal sekitar 60 ribu IDR. Harga yang tidak seberapa ketimbang ribet diberhentikan polisi, kan?

Di Indonesia, pengaturan sepeda motor sesungguhnya cukup rinci seperti tertuang di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan itu mulai dari soal pemakaian helm, menyalakan lampu utama hingga soal di sisi mana sepeda motor melaju di jalan raya.

Aturan tinggal aturan. Kesemua itu nyaris tanpa makna ketika para pesepeda motor tidak mempelajari aturan yang ada dan tentu saja jika tidak diterapkan dalam keseharian. Setuju? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: