Skip to content

Saat Melanggar Garang, Ditilang Merengek-rengek

8 Agustus 2016

kecepatan rambu2

DALAM keseharian di jalan raya Jakarta amat mudah menjumpai aksi pelanggaran aturan di jalan. Para pelaku pelanggaran tak terbatas pada satu kelompok pengguna jalan. Kini, mulai dari pesepeda motor hingga pengemudi mobil terlihat asyik melanggar aturan. Bahkan, tak jarang pedestrian pun ikut melanggar aturan, contohnya, menyeberang bukan pada tempat yang disediakan.

Padahal, di sisi lain, pelanggaran aturan atau perilaku tidak tertib di jalan merupakan salah satu pemicu utama terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Data Korlantas Mabes Polri memperlihatkan bahwa perilaku tidak tertib menempati posisi kedua terbesar. Kontribusinya sekitar 30% terhadap total kasus kecelakaan yang setiap hari tercatat 270-an kasus di seantero negeri.

Pelanggaran yang terjadi beragam. Sebut saja misalnya, bersepeda motor tidak memakai helm, melawan arus kendaraan, serta melanggar rambu dan marka. Entah karena tidak tahu aturan yang berlaku, ikut-ikutan, atau memang tidak mau tahu. Pastinya, tak jarang pelanggaran itu justeru merampas hak pengguna jalan lainnya. Contoh, melibas marka jalan di tempat penyeberangan jalan atau zebra cross. Aksi itu jelas-jelas merampas hak pedestrian yang hendak menyeberang jalan.

Para pelanggar aturan tadi dengan garang merampas hak orang lain di jalan raya. Ada yang tampil lebih galak dibandingkan mereka yang dirampas haknya. Namun, apa yang terjadi saat kena razia lantas ditilang?

Tak jarang ada yang tampil merengek-rengek lalu berujar, ‘apes.’ Aksi merengek-rengek minta untuk diberi toleransi terjadi hampir di banyak lini. Mulai dari yang sekadar berdalih jarak dekat sehingga terpaksa melanggar aturan tidak memakai helm atau melawan arah. Lalu, merengek-rengek agar diberi kelonggaran karena punya akses ke orang kuat atau ada di posisi tawar yang cukup kuat dengan berlindung di balik entitas tempatnya bernaung. Saat melanggar tampil garang, ketika kena tilang merengek-rengek.

Sewajarnya ketika melakukan kesalahan berani mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut. Berjiwa ksatria.

Sebagai manusia kita memang tak bisa terlepas dari kesalahan. Namun, kita juga bisa belajar dari kesalahan yang pernah dilalui. Terkait dengan berlalulintas jalan, kita tak bisa menggadaikan keselamatan diri dan nasib keluarga hanya karena perilaku mentalitas jalan pintas alias menerabas aturan demi egoisme. Demi kepentingan diri sendiri. (edo rusyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: