Skip to content

Tukang Kopi Gagal Menerobos Lampu Merah

3 Agustus 2016

lamer berhenti motor

ADA pemandangan mengejutkan di sudut kota Jakarta. Pesepeda motor nyaris ditabrak pesepeda motor lainnya. Suara rem menderit terdengar nyaring. Nyaris.

Kejadian pada penghujung Juli 2016 malam itu terjadi di depan mata saya. Persis di pertigaan jalan yang kondisinya padat merayap.

Pertigaan di Jl Raya Bogor itu masih dalam kondisi ramai. Saya datang dari arah Bogor hendak berbelok ke kanan, namun karena lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah, praktis berhenti. Terlihat sejumlah pesepeda motor berhenti di depan garis setop. Mereka adalah pengguna jalan yang hendak berbelok ke kanan juga.

Saat itu, dari arah berlawanan saya juga sedang berhenti karena lampu berwarna merah. Sedangkan dari kanan jalan sedang mengalir karena mereka dalam posisi lampu berwarna hijau. Dari arah saya, bagian sisi kiri bisa lurus langsung karena berwarna hijau. Tiba-tiba datang sepeda motor yang belakangan saya tahu dikendarai pria muda yang hendak belok ke kanan. Namun, karena lampu dari arah kanan sedang mengalir banyak kendaraan praktis pesepeda motor tadi harus berhenti daripada tabrakan dengan kendaraan dari arah depan.

Ironisnya, cara berhenti yang tiba-tiba membuat pesepeda motor yang dari arah belakang yang hendak lurus menjadi kagok. Bila pesepeda motor itu tidak dapat mengerem dengan baik, kecelakaan konyol dapat terjadi. “Tadinya saya mau menerobos lampu merah, tapi nggak bisa karena banyak kendaraan yang dari arah belokan,” ujar pria muda yang sehari-hari berdagang kopi itu, saat berbincang dengan saya.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, perilaku ugal-ugalan saat berkendara merupakan pemicu kedua terbesar kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Pada 2015, perilaku ugal-ugalan alias melanggar aturan (tidak tertib) menyumbang sekitar 30% kecelakaan di Tanah Air.

Faktor tidak tertib berada di posisi kedua setelah faktor lengah saat berkendara. Melihat fakta data Korlantas Mabes Polri itu tak heran jika kepolisian melontarkan jargon, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: