Skip to content

Di Jalan Raya Masih Tampak Tatapan Beringas Para Perampas

2 Agustus 2016

mobil busway_antara

KENAPA seseorang atau kelompok disebut perampas? Mari kita lihat kamus daring bahasa Indonesia http://www.kbbi4.portalbahasa.com. Kamus itu menyatakan, perampas adalah orang yang merampas, sedangkan arti rampas adalah mengambil dengan paksa.

Lantas, bagaimana kaitannya para perampas dengan jalan raya kita?

Mari lihat sekeliling kita. Adakah aksi rampas merampas? Bagaimana cara mereka merampas hak orang lain?

Supaya sama persepsi kita untuk memandang persoalan rampas merampas di jalan raya, mari kita mulai dari hal yang dianggap sepele. Zebra cross atau marka jalan untuk menyeberang adalah hak para pedestrian. Jika area itu dikangkangi oleh para pengendara kendaraan bermotor, artinya para pengendara merampas hak pedestrian.

Lalu, trotoar. Fasilitas itu untuk para pedestrian berjalan kaki. Ketika ada pengendara mobil atau motor yang melintas di trotoar artinya mereka merampas hak pejalan kaki. Begitu juga dengan ulah para pedagang maupun aktifitas lain seperti parkir liar. Mereka dengan gagah merampas hak orang lain.

Di sudut lain ada aksi merampas hak pengguna jalan lewat aksi melawan arus. Hak pengguna jalan di jalur yang semestinya dirampas oleh para pelawan arus kendaraan.

Bahkan, di jalan tol kita menjumpai aksi rampas merampas di bahu jalan. Pengemudi mobil dengan entengnya melibas bahu jalan demi memangkas waktu tempuh alias enggan antre.

Masih banyak lagi? Pasti.

Entah karena ketidaktahuan, ikut-ikutan atau memang naluri merampasnya yang kental, pastinya aksi rampas merampas menjadi sajian sehari-hari di jalan raya kita. Pelakunya tak sebatas pengendara sepeda motor, namun juga banyak dilakukan oleh pengemudi mobil. Sang pelaku mulai dari kelas ekonomi rendah hingga mereka yang berkelas sosial tinggi. Jalan raya seakan menjadi penumpahan uneg-uneg dengan mempertontonkan aksi ugal-ugalan alias melanggar aturan.

Ironisnya, ketika berhadapan dengan para perampas tadi, tak jarang mereka lebih galak daripada orang yang dirampas haknya. Tatapan beringas terpancar dari wajahnya. Entah dimana hati nurani mereka. Padahal, yang membedakan manusia dengan mahluk lain adalah kita punya otak, akal, dan nurani. (edo rusyanto)

foto:antara

One Comment leave one →
  1. 3 Agustus 2016 08:21

    Memang benar adanya, masyarakat kita saat ini mulai kehilangan sifat peduli ke sesama, bahkan mungkin telah bilang. Mungkin karena tekanan ekonomi yang memaksa masyarakat kita sibuk mencari Materi utk mencukupi kebetulan mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: