Skip to content

Lokasi Ini Bisa Jadi Alternatif Satmori Bikers Jakarta

1 Agustus 2016

kerbau dan petani

PENATNYA rutinitas di Jakarta membuat para pesepeda motor butuh relaksasi. Para anggota kelompok pesepeda motor di Jakarta atau yang kondang disapa bikers, pasti punya jurus sendiri mengendurkan urat syaraf. Salah satunya, berwisata bersama alias touring mengunjungi destinasi di sekitar Jakarta.

Bila touring umumnya dilakukan dalam waktu beberapa hari, kini kian santer istilah bersepeda motor akhir pekan. Ada yang mengadopsi istilah saturday morning ride (satmori) dan ada juga sunday morning ride (sunmori). Perjalanan bersepeda motor dilakukan pulang pergi, dari Jakarta ke kota di sekitarnya dengan jarak tempuh berkisar 50-150 kilometer (km).

Tren satmori atau sunmori didorong oleh dua hal utama, yakni sebagai katup relaksasi dan waktu yang lebih efisien. Tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas tersebut menjadi katup relaksasi mengingat tingginya rutinitas yang menjemukan di keseharian bikers. Aktivitas kerja maupun lainnya yang dilalui sehari-hari bergulat dengan beragam hal yang butuh penyegaran. Saat bersepeda motor bersama pada akhir pekan, kejenuhan tadi seperti terlepaskan dan digantikan oleh kesegaran dan kenyamanan sebagai bekal menghadapi rutinitas selanjutnya.

Sedangkan efisiensi dari satmori atau sunmori terletak pada jumlah waktu yang dihabiskan. Perjalanan pulang pergi dirasa lebih longgar dibandingkan dengan menginap berhari-hari. Karena itu, tujuan satmori atau sunmori umumnya dirancang untuk rute yang tidak membutuhkan waktu perjalanan lebih dari 10 jam. Berbeda dengan touring panjang hingga lebih dari 1.000 km yang tentu saja sulit dilakukan pulang pergi.

Nah, salah satu lokasi yang dapat menjadi alternatif bagi bikers di Jakarta adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), di kawasan Bogor, Jawa Barat. Lokasinya berjarak sekitar 41 km dari Jakarta dengan waktu tempuh berkisar 2-3 jam.

gn bunder bikers

Banyak rute menuju Taman Nasional tersebut. Sebut saja dua di antaranya, pertama, dari Jakarta melalui Darmaga, Bogor lalu Cibatok dan terakhir TNGHS. Kedua, dari Jakarta lewat kota Bogor, Ciapus, Pamijahan, dan berakhir di gerbang TNGHS. Mayoritas kondisi jalan di kedua rute tadi tergolong cukup bagus. Walau, di beberapa bagian dari ruas jalan masih dijumpai kerusakan, mulai dari yang ringan hingga serius.

Udara pegunungan yang segar, hijaunya pepohonan termasuk hutan pinus dan pohon damar, membuat rasa lelah bikers tergantikan ketika tiba di lokasi. Pemandangan nyaris serupa juga dijumpai bikers ketika mendekati areal TNGHS, termasuk bonus jalan menanjak, menurun, dan berkelok yang menggoda adrenalin. Serta sesekali akan bertemu petani yang sedang mengangon kerbau atau hewan ternak lainnya.

Pilihan menikmati pesana TNGHS atau yang kondang juga disebut Gunung Bunder seakan tak ada habisnya. Bikers bisa menikmati segarnya air terjun atau curug. Di TNGHS terdapat sejumlah air terjun dengan beragam jarak tempuh dengan berjalan kaki. Beberapa di antaranya adalah Curug Ngumpet atau Cikondang, Curug Cigamea, dan Curug Luhur. Untuk mengunjungi curug, bikers harus berjalan kaki dari areal parkir.

Selain itu, pesona yang tak kalah eksotisnya adalah Pemandian Air Panas Alam Gunung Salak Endah (GSE)  . Lokasinya yang masih di kawasan TNGHS membuat pemandian air panas itu seakan menjadi menu berbeda di tengah pilihan wisata curug. Maklum, jika di curug airnya dingin, di pemandian ini air nya panas.

gn bunder kali

Untuk menjangkau pemandian air panas ini pengunjung harus berjalan kaki dari areal parkir. Kondisi jalan menurun dan membentang sekitar 700 meter dari arah pintu masuk. Jalan ini akan menjadi sensasi tersendiri saat bikers kembali dari lokasi pemandian ke areal parkir. Nafas pun kian memburu.

Di lokasi pemandian terdapat dua kolam yang masing-masing terbagi atas untuk anak-anak dan orang dewas. Di sudut lain juga terdapat bilik untuk berendam air panas secara pribadi. Sedangkan di bagian lain terdapat pancuran untuk berbilas, serta kali berbatu yang membelah lokasi pemandian.

gn bunder tiket panas

Oh ya, terdapat sejumlah retribusi yang harus dibayar bikers ketika berkunjung ke lokasi ini. Sebut saja misalnya, tiket masuk di pintu gerbang TNGHS, yakni Rp 15 ribu untuk sepeda motor dan bikers-nya. Jika berboncengan dikenai tarif Rp 20 ribu. Lalu, untuk masuk ke pemandian air panas bikers perlu merogoh kocek Rp 10 ribu di pintu gerbang dan Rp 5 ribu untuk mandi di kolam. Sedangkan untuk pemandian privat butuh biaya Rp 35 ribu. Untuk urusan parkir bervariasi, di areal pemandian air panas bikers dipungut Rp 5 ribu per motor.

Tarif-tarif itu saya jumpai saat berkunjung ke TNGHS pada Sabtu, 30 Juli 2016. tentu saja, bersama rombongan bikers dalam ajang satmori yang saya plesetkan menjadi ‘sabtu momotoran riang’.

Sekadar catatan, jika berkunjung ke TNGHS ada baiknya membawa jas hujan mengingat cuaca di kawasan ini cenderung lembab dan kerap turun hujan. Selamat menjajal. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: