Skip to content

Singgahlah Kesini, Kita Bisa Tahu Halim yang Heroik

31 Juli 2016

museum lanud halim_rudal3jpg

SUASANA Bandara Halim Perdanakusumah kini lebih berdenyut. Bandara yang terletak di sudut kota Jakarta Timur itu lebih menggeliat ketika penerbangan komersial kembali diizinkan dari fasilitas militer TNI Angkatan Udara (AU) tersebut.

Jauh sebelum itu bandara Halim Perdanakusumah menjadi salah satu kebanggaan Kota Jakarta. Bahkan, kebanggaan bagi Indonesia karena memiliki fasilitas paling moncer. Beragam tujuan penerbangan internasional dilayani oleh bandara tersebut.

Berdirinya Lanud Halim Perdanakusuma berawal dari hasil konferensi Meja Bundar di Den-Haag antara Indonesia dengan Belanda, pada 23 Agustus 1949. Laman lanudhlm-tniau.mil.id menulis, Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma yang dulunya bernama Pangkalan Udara Tjililitan dengan segala fasilitas di dalamnya, diserahkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada 20 Juni 1950 di depan Base Operation Pangkalan Udara Tjililitan.

Kini, bandara itu melayani penerbangan kenegaraan, seperti Presiden dan Wakil Presiden, militer, dan sejumlah penerbangan domestik.

Nama bandara diambil dari anak Sampang, Madura, kelahiran 18 November 1922, yakni Abdul Halim Perdanakusuma. Laman tni-au.mil.id menulis, anak muda itu pernah mengenyam pengalaman di  Royal Canadian Air Forces. Bahkan, laman itu menegaskan, Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force pernah mencatat nama seorang pemuda Indonesia  sebagai anggotanya.  

Dengan pangkat Wing Commander, pemuda tersebut telah melakukan tugas-tugas  navigasi dan tempur selama Perang Dunia II di Eropa dan Asia.  Tidak kurang dari 44 kali ia melakukan tugas penerbangan (flight mission)  dengan menggunakan pesawat Lancaster atau Liberator.

Halim ikut bertempur melawan penjajah yang mencengkeram Indonesia saat masa Revolusi. Beragam tugas dan misi sudah dijalankan hingga akhirnya gugur dalam tugas. Ketika itu dalam kaitan usaha mencari bantuan ke luar negeri inilah Komodor Muda Udara Halim bersama Opsir Udara I Iswahjudi pergi ke Bangkok pada Desember 1947 dengan menggunakan pesawat Avro Anson VH-BBY (RI-003).

museum lanud halim_foto2
Sesudah menyelesaikan tugas di Bangkok, RI-003 kembali berangkat  menuju Singapura.   Dalam perjalanan kembali inilah tiba-tiba  di daerah Perak-Malaysia pesawat tersebut terjebak dalam cuaca buruk.   Pesawat jatuh di Pantai Tanjung Hantu Perak-Malaysia. Surat-surat kabar  berbahasa Inggris  seperti The Times danMalay Tribune memberitakan tentang kecelakaan itu dalam edisi  terbitan 16 Desember 1947.

Sebagai penghargaan atas jasa dan pengabdiannya terhadap Angkatan Udara maka pimpinan TNI Angkatan Udara menaikan pangkatnya menjadi Laksamana Muda Udara (sekarang Marsekal Muda Udara) Anumerta.   Untuk mengabadikan namanya, pada tanggal 17 Agustus 1952 nama Pangkalan Udara Cililitan diubah menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.  Tanggal 15 Februari 1961, bersama-sama dengan penganugrahan bintang jasa kepada almarhum Prof. dr. Abdulrachman Saleh, Halim Perdanakusuma memperoleh Bintang Mahaputra tingkat IV.   Penghargaan tertinggi diberikan pemerintah berupa gelar Pahlawan Nasional.

museum lanud halim_depan3

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 1975, kerangka jenazah almarhum yang bersemayam di Malaysia, dipindahkan dan dimakamkan kembali dengan upacara kemiliteran di tempat yang lebih layak, yakni di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.  Lebih dari semua penghargaan  itu, Abdul Halim Perdanakusuma telah mendapat tempat dihati bangsa.

Rangkaian sejarah heroik itu dapat kita temui jejaknya di Museum Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Bangunan museum yang berseberangan dengan kantor Danlanud itu terbuka bagi umum setiap hari dan jam kerja.

“Kami terbuka untuk umum, jika ingin berkunjung silakan kirim surat ke kami dan dengan senang hati akan kami terima. Kami juga tidak memungut biaya kunjungan,” ujar Mayor Dodo Agusprio, kepala Penerangan dan Perpusatakaan Lanud Halim Perdanakusuma, saat berbincang dengan saya, di sela kunjungan ke Museum, belum lama ini.

Dia bercerita, saat ini banyak rombongan siswa sekolah dan kelompok masyarakat yang berkunjung ke museum. Para pengunjung dapat belajar sejarah kedirgantaraan Indonesia, khususnya seputar bandara Halim Perdanakusuma.

Museum yang diresmikan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat, pada Senin, 9 April 2012 itu relatif mudah terjangkau, termasuk oleh kalangan pesepeda motor. Terdapat areal parkir yang cukup luas. Tempat parkir di depan musem saya perkirakan bisa menampung lebih dari 100 sepeda motor dan puluhan kendaraan roda empat.

Bangunan museum terdiri atas lima ruangan. Para pengunjung dapat belajar sejarah hingga mencicipi simulator pesawat. Lebih menarik lagi, di museum ini terdapat ruang teater berpendingin udara bagi pengunjung yang ingin menyaksikan atraksi kedirgantaraan Indonesia. Tersedia beberapa film pendek dengan durasi 3 hingga 7 menit yang menyajikan aksi aerobatik tim Jupiter Indonesia. “Seru dan menarik filmnya, kita bisa belajar,” ujar seorang anak muda pengunjung museum, saat saya tanya kesannya.

Kapan berkunjung? (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 5 September 2016 17:16

    Terima kasih Pak Edo atas tulisannya mengenai Museum Lanud Halim Perdanakusuma, kami mengharapkan agar Pak Edo dapat mengajak rekan-rekan, keluarga maupun tetangga yang berminat mengenai kedirgantaraan dapat mengunjungi Museum Lanud Halim Perdanakusuma. Demikian Selamat berakatifitas, sampai ketemu lagi,
    salam hormat. Dodo Agusprio S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: