Skip to content

Saat Sang Gadis Bertanya Soal Kadaluarsa Helm

29 Juli 2016

helm dipakaikan klik

TAYANGAN berita televisi swasta memberitakan penyerangan kantor polisi di Sumatera Barat, baru-baru ini. Alasan penyerangan, yakni karena salah satu warga desa tewas akibat kekerasan yang dilakukan polisi. Pihak kepolisian membantah.

Bahkan, hal yang mencengangkan saya, kepolisian mengaku bahwa korban meninggal karena kecelakaan tunggal saat menghindari razia di jalan. Kasus ini masih bergulir hingga kini, Jumat, 29 Juli 2016.

Kecelakaan akibat menghindari razia sempat beberapakali saya baca di media massa. Ada perasaan miris saat membaca informasi itu. Salah satu kejadian yang sempat meruyak belum lama ini adalah kecelakaan siswi yang menabrak pesepeda motor lainnya di kawasan Tangerang, Banten. Sang pesepeda motor yang ditabrak berada di jalur semestinya, sedangkan sang siswi yang menghindari razia melaju dengan melawan arus. Sang siswi dan boncengannya tidak memakai helm.

Salah satu kesalahan yang kerap dilakukan pesepeda motor adalah tidak memakai helm saat melaju di jalan raya. Ada banyak alasan tidak memakai helm saat melaju di jalan. Salah satunya adalah berdalih karena hanya berkendara untuk jarak dekat. Tidak jelas defenisi jarak dekat itu, apakah 50 meter, 100 meter, 500 meter, atau 1.000 meter.

Alasan seperti itu lahir dari berbagai anggota kelompok masyarakat. Entah mereka dari kalangan ekonomi bawah, menengah, bahkan kalangan atas. Mulai dari kelas tidak berpendidikan hingga mereka yang lulusan perguruan tinggi.

Alasan jarak dekat tidak memakai helm jika diungkapi ternyata karena dianggap tidak ada petugas yang menindak. Nah, ketika bertemu petugas lantas muncul rasa bersalah dan mencoba menghindar. Walau, ada juga yang tidak dapat menghindar lantas merengek-rengek untuk tidak ditilang. Lagi-lagi, kata-kata, cuma jarak dekat saja pun meluncur.

Di sisi lain, barangkali argumen jarak dekat tidak pakai helm karena alasan tingkat kekerasan aspal di lingkungan pemukiman tempat tinggalnya lebih lembut dibandingkan aspal di jalan raya yang jauh dari rumahnya. Barangkali.

Kesadaran memakai helm eloknya berbasis pada keselamatan sang pemakai. Helm sebagai pelindung kepala dan upaya mereduksi fatalitas bila terjebak kecelakaan di jalan. Maklum, luka di kepala dan leher merupakan pemicu utama kematian pesepeda motor ketika terlibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Helm mampu melindungi secara maksimal jika pelindung kepala itu dalam kondisi tidak kadaluarsa. Lalu, pemakaiannya secara benar dan helm sesuai dengan kepala sang pemakai. Serta, tentu saja helm tersebut sesuai dengan Standard Nasional Indonesia (SNI).

“Memang helm ada kadaluarsanya?” ujar Tessa, seorang perempuan sepeda motor di lingkungan kantor tempat saya bekerja, di Jakarta, baru-baru ini.

konstruksi-helm

Sore itu dia membawa helm berwarna putih jenis open face dengan double visor. Lalu, saya tunjukan identitas tahun produksi helm tersebut di bagian dalam sisi belakang helm. Dia pun tampak mencerna informasi itu terutama bagian usia kadaluarsa helm yang berkisar 4-5 tahun. Daya tahan helm juga dipengaruhi oleh apakah helm tersebut pernah jatuh, sering jatuh, atau tidak pernah jatuh. Dalam kondisi normal, yakni tidak pernah jatuh serta dipakai terus menerus, usia 4 tahun adalah waktunya mengganti sang helm. Sekali lagi, jika ingin helm yang dipakai mampu melindungi secara maksimal.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, Badan Kesehatan Dunia (WHO) bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Ya, memakai helm adalah ikhtiar kita melindungi kepala, bukan untuk menghindari razia. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. anggiwirza permalink
    29 Juli 2016 14:33

    Brarti helm saya udah kadaluarsa ya. 5 tahun lebih😱

    Tapi kalo dipake masih nyaman dan belum ada tanda2 kerusakan gimana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: