Skip to content

Lima Hal Penting Laporan PBB Soal Kecelakaan

27 Juli 2016

laka-lantas-tol-jagorawi

KECELAKAAN lalu lintas jalan bukan semata persoalan Indonesia. Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahkan menempatkan persoalan kecelakaan sebagai permasalahan yang cukup serius. Lewat Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), PBB menyerukan negara-negara anggotanya untuk segera bertindak.

Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi pada 2010 dan melahirkan pembentukan Dekade Aksi Keselamatan Jalan (2011-2020).

Indonesia sebagai salah satu anggota WHO lantas menggulirkan sejumlah program dengan target-target yang cukup fantastis. Salah satunya, menurunkan fatalitas hingga 80% pada 20135. Segenap sepak terjang untuk menurunkan angka fatalitas korban kecelakaan itu dituangkan dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan.

Lantas, seperti apa catatan WHO tentang kecelakaan lalu lintas jalan di dunia?

Berikut ini sejumlah catatan penting untuk menyegarkan ingatan kita semua.

Pertama, korban kecelakaan.
Setiap tahun, di dunia tercatat lebih dari 1,2 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Artinya, setiap jam lebih dari 136 orang tewas direnggut petaka di jalan raya.

Kedua, membunuh generasi muda.

Secara global, kecelakaan lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian di kalangan anak muda, yakni direntang usia 15-29 tahun.

Ketiga, korban di negara ekonomi rendah.
WHO menyebutkan bahwa sebagian besar kematian akibat kecelakaan berada di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Catatan WHO menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat telah disertai dengan peningkatan motorisasi dan mencuatnya kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah kehilangan sekitar 3% dari PDB mereka akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

dunia laka dan negara terbesar

Keempat, penegakan hukum.
Penegakan hukum dinilai menjadi langkah penting untuk keberhasilan sepak terjang negara dalam mengurangi cedera akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Menegakkan hukum dinilai cukup efektif dalam mengubah perilaku pengguna jalan dari semula ugal-ugalan menjadi lebih manusia.
Sejumlah regulasi yang dinilai perlu dibuat dan implementasikan terkait hal itu adalah tentang batas kecepatan maksimum, larangan meminum alkohol saat mengemudi, penggunaan helm, dan pemakaian sabuk pengaman saat berkendara.

Kelima, kelompok rentan kecelakaan.
Pengguna jalan yang rentan menjadi korban kecelakaan adalah kalangan pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Data WHO memperlihatkan kalangan pesepeda motor menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban kecelakaan, yakni sekitar 23%. Lalu, sekitar 22% dari kalangan pejalan kaki dan sekitar 4% dari kalangan pesepeda kayuh.

Lima catatan penting WHO tersebut tertuang dalam laporan Global Status Report on Road Safety 2015. Semoga dapat menjadi pengingat kepada kita semua bahwa catatan kelam di jalan raya masih cukup serius, termasuk di Indonesia. Negara kita mencatat setidaknya 250-an kasus kecelakaan terjadi setiap hari yang merenggut 70-an korban jiwa. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: