Skip to content

Ulah Mengkhawatirkan Sopir Angkot Jakarta

22 Juli 2016

DENYUT Kota Jakarta tak bisa dilepaskan dari keberadaan angkutan kota alias angkot. Inilah moda transportasi yang membantu warga, terutama di pinggiran, dalam memenuhi kebutuhan bermobilitas sehari-hari. Angkot menjadi tulang punggung transportasi masyarakat.

Peran angkot amat penting transportasi anak sekolah, mahasiswa, ibu rumah tangga, para pekerja swasta hingga para profesional sekalipun. Tarifnya yang relatif terjangkau kocek, saat ini berkisar Rp 3.000-5.000 per orang sekali jalan, menempatkan kehadiran angkot dinanti-nanti konsumen.

Jenis kendaraan angkot kini beragam. Ada yang dari kategori low multiple vehicle purpose (MPV) dan ada yang jenis lebih kecil lagi. Kapasitas tempat duduknya bisa mencapai 12 orang termasuk sang pengemudi. Para penumpang duduk berhadap-hadapan, kecuali penumpang yang duduk di samping sang sopir.

Umumnya sang pengemudi sopir angkot mendapat upah atas kelebihan jumlah uang yang wajib disetor ke sang pemilik mobil. Misal, setoran Rp 300 ribu, lalu saat beroperasi mendapat Rp 500 ribu, sang pengemudi mengantongi Rp 200 ribu. “Uang bensin dari kita,” ujar seorang pengemudi angkot,” saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Di balik besarnya jasa angkot dalam urusan transportasi warga kota, tersimpan juga sejumlah ulah pengemudi yang mengkhawatirkan. Beberapa di antaranya yang sempat saya alami sendiri adalah;

1. Melawan arus
Ketika kemacetan lalu lintas jalan yang menggila, sang pengemudi berinisiatif masuk ke jalur yang berlawanan.

2. Kejar-kejaran
Ada yang ngebut saling kejar-kejaran demi mendapatkan penumpang. Bisa jadi dari sinilah istilah kejar setoran lahir. Pengemudi saling berebut mencari penumpang agar mendapat uang setoran.

3. Keluar dari trayek
Lagi-lagi, soal kemacetan lalu lintas jalan menjadi alasan pengemudi untuk mencari jalur alternatif. Ironisnya, angkot yang bersangkutan keluar dari trayek yang semestinya, walau tujuan akhir tetap sama. Masalahnya, penumpang yang bertujuan ke trayek semestinya menjadi terabaikan haknya.

4. Putar balik
Belum lagi sampai ke terminal tujuan, sang pengemudi berputar arah atau putar balik. Sang penumpang pun dipindahkan ke angkot lainnya, atau bahkan, diturunkan begitu saja dengan dikembalikan sebagian uangnya.

5. Menurunkan/menaikkan di tengah jalan
Menurunkan atau menaikkan penumpang di bagian tengah jalan menjadi salah satu ulah pengemudi angkot yang mengkhawatirkan. Mobil tidak diarahkan ke sisi jalan di tempat sang penumpang berdiri, melainkan menunggu di tengah jalan atau di sisi kanan jalan di dekat separator jalan. Begitu juga saat menurunkan penumpang.

Beberapa ulah di atas amat mengkhawatirkan mengingat berpotensi menimbulkan kesemrawutan jalan, bahkan memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Ketergesaan, tidak peduli dengan sesama pengguna jalan, bahkan tidak peduli pada keselamatan, tampaknya menjadi pemicu ulah-ulah di atas. Bila akarnya ada pada kejar setoran, rasanya perlu sosialisasi tentang pentingnya memprioritaskan keselamatan berlalu lintas jalan. Bukankah ada istilah, uang bisa dicari, tapi nyawa cuma satu? (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    22 Juli 2016 13:47

    waduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: