Skip to content

Pesepeda Motor Berstiker Ini Tak Tergoda Libas TL

19 Juli 2016

lampu merah kuningan jaksel dilibas

BAGI sebagian orang menaati aturan di jalan menjadi hal mutlak. Sedangkan melanggar aturan adalah pilihan. Tentu, pilihan yang memikul segudang risiko.

Tingkat pelanggaran di jalan-jalan Jakarta masih cukup tinggi. Setidaknya tercatat sekitar satu juta pelanggaran setiap tahun. Artinya, tak kurang dari 2.700 pelanggaran per harinya.

Pelanggaran yang dilakukan oleh para pengguna jalan bisa jadi bukan semata karena niat sang pelanggar. Ada yang kedapatan melanggar karena ikut-ikutan, bahkan, ada yang karena ketidaktahuan akan aturan yang ada, secara tidak sengaja melanggar aturan. Namun, apapun alasannya, melanggar tetap melanggar. Risiko yang dipikul bisa terkena denda atau berujung pada petaka jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan.

Mengingat populasi kendaraan bermotor yang terbesar adalah sepeda motor, para pelanggar pun mayoritas datang dari kelompok ini. Ada yang menerobos lampu merah (traffic light/TL), melibas marka jalan, merangsek trotoar hingga melawan arus lalu lintas. Contoh yang tergolong ikut-ikutan melanggar adalah merangsek zebra cross alias marka jalan di perempatan jalan atau di area TL. Melihat ada pesepeda motor lain yang merangsek maju, pesepeda motor yang lain ikut-ikutan.

Ironisnya, ada pemikiran bahwa kalau melanggar bersama-sama dalam jumlah besar akan sulit ditindak. Polantas dianggap kesulitan mana yang akan ditindak karena itu semangat melanggar menjadi berkobar-kobar.

Di tengah pemikiran seperti itu suatu ketika saya melihat seorang pesepeda motor yang punya pendirian teguh. Kejadian itu persis di perempatan Kuningan dari arah Mampang yang menuju ke Jl Rasuna Said atau arah Kuningan. Perempatan itu mempertemukan tiga jalan, selain kedua jalan tadi, dari arah Cawang menuju Semanggi atau sebaliknya adalah Jl Jenderal Gatot Subroto.

Senin, 18 Juli 2016 siang, di perempatan jalan itu TL berwarna merah. Namun, sejumlah pesepeda motor perlahan mulai merangsek maju hingga ke kolong jalan layang (fly over). Mereka berhenti bergerombol disana. Jumlahnya puluhan mungkin bisa mencapai seratusan sepeda motor.

Nah, pesepeda motor yang bagian belakang tunggangannya penuh dengan stiker kelompok motor itu tetap teguh. Dia tak terpancing untuk ikut melanggar TL. Ketika terdengar suara klakson dari arah belakang yang seakan meminta jalan untuk maju, sang pesepeda motor tadi tetap tenang. Barulah ketika TL berwarna hijau dia bergerak.

Barangkali ada diantara kita yang menganggap melanggar TL adalah hal sepele. Tapi, tampaknya bagi pesepeda motor tadi hal itu bisa jadi sumber perkara. Ketaatannya pada rambu dan TL mencerminkan dia tak butuh aksi ikut-ikutan atau menyepelekan persoalan. Bisa jadi karena dia sadar, hal gede kerap kali muncul oleh hal yang dianggap sepele. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 19 Juli 2016 17:52

    Ntah kenapa lg enak enak di depan belakang garis… Kadang ada yang klakson.. Saya bales bleyer lol😀

  2. ismail permalink
    19 Juli 2016 18:59

    Ya karena masyarakat Indonesia memang mentalnya melanggar, sedangkan petugasnya malas², jarang keliatan dijalan, adapun pada ‘banci’ semua, tidak berani menindak, harusnya dicokok yg paling depan, anggap sebagai Provokator, motornya diangkut, beres, mudah² dg pergantian Kapolri yg baru ini Polisi bisa menjadi lebih tegas, tidak melempem lagi seperti selama ini, Presiden sudah tegas, Gubernur Tegas, semua dari Sipil, kalau Kapolrinya lembek apa ga malu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: