Skip to content

Jabodetabek Siap-siap Diserbu Mal Rp 61 Triliun

14 Juli 2016

parkir mal casablanca3

KAWASAN Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) terus diserbu pusat perbelanjaan modern alias mal. Kini, sedikitnya ada 80-an mal di kawasan berpenduduk 20 jutaan jiwa tersebut.

Ternyata, sepanjang 2016-2019 bakal masuk lagi 20-an mal atau pusat ritel dengan nilai sekitar Rp 61 triliun ke kawasan Jabodetabek. Tampaknya, warga Jabodetabek memang membutuhkan ruang tempat berkumpul selain berbelanja. Entah untuk sekadar beranjangsana atau sambil berkulinerria bersama keluarga. Mal menjadi salah satu destinasi untuk melepas penat keseharian warga kota.

Coba saja lihat salah satu alasan meruyaknya mal di Jabodetabek. Menurut para pengamat properti dan lembaga kajian properti menilai, kehadiran ritel modern itu tidak terlepas dari ekspansi merek-merek global yang merangsek ke Jakarta sebagai sumbu Jabodetabek.

Chusman & Wakefield Indonesia menyebutkan, sejumlah pemain ritel raksasa merangsek Jakarta, di antaranya berasal dari Timur Tengah, yakni Lulu Hypermarket. Lalu, brand pakaian asal Amerika, yakni Old Navy dan brand kosmetik asal Amerika, yaitu Urban Decay telah hadir di Indonesia. Ketiganya telah membuka gerai pertamanya pada kuartal pertama 2016, masing- masing di Cakung (Jakarta Timur), Central Park Mall (Jakarta Barat), dan Kota Kasablanka (Jakarta Selatan).

Ketika Jakarta masih dibalut moratorium pembangunan mal, praktis para pengembang properti membidik mal ke satelit Jakarta. Praktis, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, bahkan Depok pun diserbu pembangunan mal. Kota-kota satelit Jakarta itu kini juga menjadi kantong-kantong hunian mereka yang bekerja atau mencari nafkah di Jakarta.

Kehadiran mal di kawasan satelit Jakarta menambah dinamika perekonomian setempat. Namun, di sisi lain, kita menyaksikan bagaimana padatnya arus kendaraan di kawasan pusat perbelanjaan modern tersebut. Tumpah ruahnya kendaraan dan orang yang berkunjung, terlebih di akhir pekan membuat arus lalu lintas jalan menjadi kian padat. Para pengguna jalan pun dituntut untuk lebih sabar dan ekstra waspada.

Rasa penat menghadapi kemacetan lalu lintas jalan perlu diimbangi dengan kesabaran yang tinggi. Hanya dengan begitu kekesalan yang mungkin timbul bisa segera diredakan sehingga tidak merembet pada pengrusakan konsentrasi sambil berkendara. Apalagi, kemacetan yang tercipta juga disumbang oleh para pengguna kendaraan pribadi itu sendiri. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: