Skip to content

Kita Bukan Predator Jalan Raya

12 Juli 2016

lampu utama siang hari2

APA yang terbayang di benak Anda saat mendengar kata predator?

Umumnya orang akan langsung berpikir bahwa predator adalah pemangsa. Pemikiran itu tidak keliru mengingat secara harpiah memang maknanya seperti itu. Lihat saja arti kata yang tertulis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kamus itu disebutkan bahwa arti kata predator adalah hewan pemangsa hewan lain. Ngeri.

Dalam rantai makanan alam semesta, si kuat memangsa yang lemah. Kekuatan menjadi fisik menjadi panglima. Si lemah yang lengah bisa dalam sekejap raib ditelan si kuat yang selalu mengintai.

Di kehidupan modern saat ini naluri mangsa memangsa terus berkembang biak. Di dunia bisnis, korporasi yang menggurita menguasai sistem perekonomian. Sang pemodal kecil hanya mengais remah-remah ekonomi yang tersisa. Itu sudah bagus, sudah menjadi rahasia umum bahwa si kecil kerap tergerus. Ditelah oleh pemodal kuat dengan instrumen mesin-mesin produksi yang kokoh. Ibarat rantai makanan, dia ditelan oleh kekuatan yang ada di atasnya.

Para pemangsa mengirim sinyal maut kepada korbannya. Saat taring mencabik-cabik, sang korban tak berdaya.

Maut terus ada di sekeliling kita. Salah satu yang amat dekat ada di jalan raya. Sang maut bernama kecelakaan lalu lintas jalan hadir setiap saat. Bahkan, dalam setiap jam ada tiga nyawa anak bangsa melayang sia-sia. Sepanjang 20 tahun terakhir hampir 400 ribu jiwa tewas akibat kecelakaan di bumi Nusantara. Jutaan orang lainnya menderita luka-luka dan sebagian dari mereka harus menyandang cacat tetap. Produktifitas korban kecelakaan pun merosot. Kalau sudah begini, roda ekonomi pun bisa ikut terseok-seok.

Ironisnya, pemantik utama sang maut adalah faktor manusia, khususnya perilaku ugal-ugalan di jalan raya. Cara berkendara yang ugal-ugalan alias melanggar aturan merupakan pemicu utama. Sebut saja misalnya ngebut alias memacu kendaraan melampaui batas kecepatan yang ditetapkan. Atau, melawan arus lalu lintas dan mengemudi dalam kondisi tidak berkonsentrasi.

Perilaku demikian bagai predator yang siap memangsa siapapun di jalan raya. Bahkan, termasuk diri sendiri sang pengendara ugal-ugalan. Saat pengendara lain melaju sesuai ketentuan, namun hadirnya pengendara yang ugal-ugalan, membuat kondisi jalan raya begitu mencekam. Tak pelak sebanyak 11 kecelakaan terjadi setiap jam atau setiap lima menit terjadi satu kecelakaan di jalan.

Kita bukan predator di jalan raya karena kita manusia yang punya akal sehat dan nurani. Akal sehat menempatkan keselamatan sebagai prioritas lewat mengikuti aturan yang ada. Sedangkan nurani membawa kita manusia beradab untuk saling menghargai, sudi berbagi ruas jalan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: