Skip to content

Persepsi Kok Dianggap Fakta

8 Juli 2016

bonceng tiga tak helm5

ADA gejala bahwa persepsi dianggap fakta di tengah masyarakat kita. Gejala itu diduga lantaran malas melakukan verifikasi atas fakta yang ada. Paling sedikit dipicu karena tak mampu menjangkau fakta yang sesungguhnya.

Fakta yang tak terjangkau bisa jadi juga karena dikaburkan atau dihilangkan. Untuk alasan yang terakhir itu patut diduga karena adanya berbagai kepentingan di belakangnya. Mulai dari kepentingan sosial, ekonomi hingga politik.

Kembali soal persepsi yang dianggap fakta. Hal ini bisa menimbulkan kerancuan. Contoh, persepsi bahwa seseorang bersalah, belakangan setelah diteliti orang yang bersangkutan justeru berada di posisi yang benar.

Dalam contoh di atas, bisa menimpa siapa saja. Namun, dampak yang ditimbulkan bisa bermuara pada satu persoalan, merugikan orang yang tidak bersalah.

Nah, dalam penentuan salah benar kita punya satu pegangan. Dalam urusan berkendara di jalan raya, pegangan utama ada di Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Regulasi yang satu ini menjadi pijakan kita dalam menentukan mana tindakan yang salah dan mana yang benar. Tentu saja vonis sahih ada di tangan sang hakim di pengadilan.

Sekali lagi, UU tersebut untuk persoalan berkendara yang benar atau yang salah. Misal, berkendara melawan arus adalah salah, sedangkan berkendara di lajur yang ditentukan merupakan perilaku yang benar.

Di luar itu ada lagi cara berkendara yang baik. Beda tipis memang antara yang baik dan benar. Contoh, bersepeda motor yang baik adalah memakai sepatu untuk perlindungan keselamatan kaki. Sedangkan bersepeda motor yang benar adalah memakai helm perlindungan kepala.

Baik atau tidak, pijakannya bertumpu pada etika di masyarakat. Karena itu rasanya etika mesti dijunjung tinggi dan menempati posisi di atas hukum yang berlaku. Jangan lupa asas hukum adalah senantiasa menjunjung tinggi rasa keadilan publik.

Kembali soal persepsi dianggap fakta. Kita dituntut untuk memahami persoalan dengan baik terhadap aturan dan etika yang ada. Lewat pemahaman persoalan yang mumpuni, ditambah kemauan melakukan verifikasi atau konfirmasi pada fakta data, tak ada lagi perilaku persepsi dianggap fakta. Maklum, perilaku menempatkan persepsi sebagai fakta bisa berujung pada petaka, termasuk di jalan raya. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: