Skip to content

Di Jabodetabek, Angkutan Kereta Kian Digemari

19 Juni 2016

krl dan penumpang_antara

TERNYATA, angkutan kereta di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) kian digemari. Faktanya, pengguna kereta di kawasan itu melonjak sekitar 92,06% sepanjang lima tahun terakhir, yakni 2011-2015.

Sekadar gambaran, pada 2011, setiap hari angkutan kereta rel listrik (KRL) yang melayani kawasan Jabodetabek mengangkut 367 ribuan penumpang. Sedangkan tahun 2015, jumlah yang diangkut melonjak drastis menjadi 705 ribuan penumpang per hari. Dahsyat kan?

Mengapa bisa begitu?

“Kereta bukan hanya alternatif pilihan transportasi rakyat yang murah, tetapi juga bebas dari kemacetan jalan raya ibu kota Jakarta,” tulis laporan Transportasi DKI Jakarta 2015, lansiran Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta.

Bahkan, masih menurut laporan itu, kereta api bukan hanya pilihan bagi mereka ekonomi menengah ke bawah, tapi juga menjadi gaya hidup mereka yang berduit tetapi mencari kepraktisan serta kenyamanan untuk mencapai tujuan.

Cukup banyaknya penumpang kereta dengan tujuan Jabodetabek menunjukkan bahwa moda transportasi kereta api masih menjadi pilihan utama angkutan bagi masyarakat di wilayah ini. Angkutan kereta api memang masih menjadi angkutan favorit, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan DKI Jakarta.

“Oleh karena itu, kereta api sebagai salah satu moda transportasi darat yang dapat mengangkut penumpang maupun barang dalam jumlah besar secara tepat waktu, aman, efisien, dan relatif murah dapat lebih dikembangkan dan menjadi salah satu alat transportasi yang terus diperhitungkan,” saran BPS DKI Jakarta.

Jumlah penumpang kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan adanya penambahan armada KRL sejak 2010 hingga 2014 sebanyak 664 unit KRL. Tahun 2014, PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) mengoperasikan 739 perjalanan setiap harinya, meningkat dibanding tahun 2013 yang baru 560 perjalanan, keseluruhan perjalanan tersebut diakomodasi dengan mengoperasikan 65 rangkaian per hari di wilayah Jabodetabek. PT KCJ merencanakan penambahan KRL setiap tahun sampai 2019, sehingga dengan jumlah armada yang ada diharapkan akan mampu mengakomodasi 1,2 juta penumpang per hari. Tahun 2013, KRL Jabodetabek mampu mengangkut lebih dari 400 ribu penumpang per hari, meningkat menjadi 500 ribu penumpang per hari pada 2014.

Upaya untuk memberi kemudahan dalam reservasi tiket kereta api non commuter di Indonesia telah dilakukan PT KAI dengan diluncurkannya pada awal September 2015, inovasi teknologi terbaru dari PT KAI dengan meluncurkan aplikasi mobile yang disebut dengan KAI Access. Sebuah aplikasi mobile yang diciptakan untuk mempermudah calon penumpang dalam memesan tiket secara online dan mendapatkan info-info terbaru dari PT KAI. Aplikasi ini dapat diunduh di google playstore, appstore, windows market, dan blackberry app world.

rute krl

PT KAI pada Juli 2013 mencanangkan penggunaan e-ticketing dan tarif progresif, sistem ini bertujuan untuk mempermudah para penumpang dan diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, sehingga bisa mengurangi kemacetan Jakarta. Seiring sistem e-ticketing diberlakukan pula penyesuaian tarif yang semula tarif KRL Rp 3.000 untuk 5 stasiun pertama dan Rp 1.000 per stasiun selanjutnya, menjadi Rp 2.000 untuk 5 stasiun pertama dan Rp 500 per stasiun selanjutnya.

PT KAI sudah memasang lebih dari 600 alat tiket elektronik di 66 stasiun se-Jabodetabek. Kartu elektronik multitrip yang digunakan untuk perjalanan KRL Commuter Line menjadi solusi praktis bagi para komuter karena bisa dipakai bepergian berulangkali sesuai saldo tanpa harus repot antre membeli tiket KRL di loket. Tiket elektronik multitrip ini dijual Rp 50 ribu, terdiri atas biaya pembelian tiket Rp 20 ribu plus saldo tiket Rp 30 ribu.

PT KAI melalui anak usahanya, PT Reska Multi Usaha (PT RMU) telah menerapkan sistem e-parking di stasiun-stasiun kereta api di Jabodetabek mulai Oktober 2014. Stasiun Jabodetabek yang dilayani dengan e-parking ada 23 stasiun, yaitu Bogor, Cilebut, Bojong Gede, Citayam, Depok, Pondok Cina, Tanjung Barat, Duren Kalibata, Bekasi, Kranji, Cakung, Klender Baru, Klender, Parung Panjang, Cisauk, Serpong, Rawabuntu, Sudimara, Jurangmangu, Pondokranji, Kebayoran, Tangerang, dan Poris. Penerapan sistem e-parking merupakan upaya untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat saat memarkirkan kendaraannya di stasiun. (edo rusyanto)

foto: antara

2 Komentar leave one →
  1. KrokKrok permalink
    20 Juni 2016 04:24

    Coba lihat wajah wajah Suram dan “Uncivilized” para mahluk mahluk yang nangkring di atap gerbong itu, Begitu menjijikan. Ngomong ngomong kok fotonya foto Krl yang lama?

    -masih menunggu agar Indonesia punya Underground Metro Train-

  2. 4 Juli 2016 12:03

    Fotonya sudah tidak relevan dengan kondisi KRL saat ini. Lagi pula KRL sekarang lebih populer disebut Commuter Line.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: