Skip to content

Adu Kambing Hingga Pelecehan Seksual Gara-gara SIM

15 Juni 2016

pelajar tak helm

RASA geram dan kecewa mencuat saat membaca berita kasus pelecehan seksual anak di bawah umur oleh petugas. Siswi sekolah menengah kejuruan (SMK) dilecehkan secara verbal oleh sang petugas yang belakangan meminta maaf kepada sang siswi.

Di bagian lain, seorang siswi yang panik lantaran ada razia terlibat tabrakan adu kambing. Saat kejadian dia berdua dengan rekannya yang ikut membonceng sepulang sekolah.

Tahukah Anda bahwa kedua kejadian pada Mei dan Juni 2016 di dua kota berbeda di Pulau Jawa itu lantaran sang siswi tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) saat bersepeda motor. Sangat masuk akal mereka tidak punya SIM mengingat usia kedua siswi itu belum 17 tahun sebagai syarat batas usia minimal mendapatkan SIM C, yakni SIM untuk pesepeda motor. Inilah fakta di sekitar kita bahwa anak-anak di bawah umur terpaksa bersepeda motor ketika mobilitas mereka belum diakomodasi oleh angkutan umum.

Pilihan jatuh kepada sepeda motor ketika para orang tua menganggap bahwa si roda dua-lah solusi atas masalah mereka. Para orang tua yang permisif mengizinkan anaknya yang di bawah umur untuk bersepeda motor. Orang tua berdalih hanya dengan sepeda motor motor kebutuhan mobilitas sang anak dapat terpenuhi. Perjalanan dari rumah ke sekolah atau sebaliknya, bahkan hingga ketika sang anak wira-wiri dianggap lazim menggunakan si roda dua.

Di sisi lain, sang anak harus memikul risiko yang tidak kecil. Dalam kasus di Malang, Jawa Timur memang tergolong memilukan, yakni siswi menghadapi pelecehan seksual. Lantaran kedapatan tidak memiliki SIM, oknum petugas melakukan pelecehan secara verbal.

Risiko lainnya, seperti terjadi di Tangerang, Banten manakala seorang siswi menabrak pesepeda motor lainnya lantaran panik. Ketika menemui razia Operasi Patuh 2016, sang siswi panik sehingga melawan arah. Buntutnya, pesepeda motor yang sedang dalam jalur semestinya justeru menjadi korban. Brakkkk! Kecelakaan adu kambing pun terjadi, yakni kecelakaan depan tabrak depan.

Bahkan, risiko lainnya adalah ancaman tindakan kriminal. Seorang kolega saya pernah kehilangan sepeda motor yang ditunggangi sang anak untuk bepergian ke sekolah. Sang anak ditipu oleh oknum pencoleng ketika pulang sekolah. Jadilah si kuda besi berpindah tangan. Pihak asuransipun tidak menanggung risiko atas kehilangan sepeda motor yang ditunggangi anak di bawah umur. Secara hukum, tindakan tersebut dianggap melanggar hukum. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. yanuar pranyata permalink
    16 Juni 2016 14:13

    Lama lama nih anak anak pun ada yg Alan men jadi duta SIM seindoneasia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: