Skip to content

Puasa Melanggar Aturan Mestinya Bisa Dijadikan Tradisi

5 Juni 2016

ucapan Puasa 2016b

SAAT Ramadan tiba ucapan syukur membahana di jagat raya. Mensyukuri apa selama ini diraih sekaligus menjalankan ibadah shaum di bulan penuh ampunan. Kaum muslim beribadah puasa satu bulan penuh. Melatih kesabaran dan menyuburkan empati pada sesama.

Mulai awal Juni 2016 kaum muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah yang luar biasa sarat dengan makna. Ibadah puasa dilakukan sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Menahan haus dan lapar. Menahan emosi dan segala nafsu angkara murka. Pada akhir perjuangan, mereka memetik jiwa yang suci. Kembali fitri.

Pada gilirannya, buah ibadah Ramadan adalah melahirkan sosok yang tak semata punya kesabaran tinggi, tapi juga peduli pada sesama penghuni jagat raya. Semestinya, sosok yang seperti itu juga terefleksi di jalan raya. Perilaku berlalulintas jalan yang sabar untuk antre. Menghargai hak sesama pengguna jalan sesuai dengan porsinya. Tak ada lagi saling sikut, saling rampas, bahkan mencuri hak orang lain. Di jalan raya, semua ada porsinya.

Fakta memperlihatkan bahwa mayoritas pemicu kecelakaan di jalan raya adalah perilaku para pengguna jalannya. Setiap hari rerata 70-an jiwa tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan hanya lantaran pengendara yang mengumbar nafsu. Emosi meledak, merampas hak pengguna jalan lain, hingga tak peduli akan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, ugal-ugalan menyumbang sekitar 24% terhadap total kecelakaan yang dipicu faktor manusia.

Perilaku tidak tertib menjadi penyumbang kedua terbesar di dalam faktor manusia yang memicu kecelakaan. Pada 2014, di Jakarta dan sekitarnya, aspek teratas dalam menyumbang kecelakaan adalah lengah dalam berkendara.

Aspek tidak tertib saat berkendara ternyata anjlok sekitar 34% pada 2014. Setahun sebelumnya, perilaku ugal-ugalan menyebabkan tujuh kasus kecelakaan per hari. Artinya?

Ya. Ugal-ugalan di jalan mencatat penurunan. Mulai banyak yang menyadari pentingnya sudi toleran dan taat aturan di jalan. Di sisi lain, semoga kian banyak pengemudi yang memiliki kepribadian tunggal. Maksudnya, ketika di rumah dan di kantor bersikap santun, maka ketika di jalan juga bertingkah toleran dan taat aturan. Kepribadian yang sama. Jangan sampai sebaliknya. Repot.

Bisa jadi kini banyak pengguna jalan yang kian menyadari pentingnya kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Bukan hanya dirinya, tapi juga keselamatan orang lain.

Merujuk fakta di atas, sepatutnya buah ibadah Ramadan menjadi tradisi saat kita bermasyarakat. Dan, tentu saja saat kita berlalulintas jalan. Selamat ibadah puasa Ramadan 1437 hijriah. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: