Skip to content

Kawasan Puncak Bakal Banyak Dihuni Gedung Jangkung

29 Mei 2016

kabut di puncak jabar

BAGI pesepeda motor di Jakarta, kawasan Puncak yang mencakup wilayah Bogor dan Cianjur masih memikat. Pada akhir pekan atau musim liburan, banyak yang memilih kawasan pariwisata itu untuk melepas penat dari kesibukan sehari-hari di Jakarta.

Jalur kawasan Puncak yang menanjak, menurun, dan berkelok memberi sensasi tersendiri bagi para penunggang kuda besi. Apalagi, saat kabut turun membalut pegunungan, menunggang kuda besi punya tantangan tersendiri. Kalau tidak cermat, bisa-bisa tergelincir.

Setiap tahun, jumlah wisatawan yang datang ke Puncak terus meningkat. Tak heran jika kemudian para pengembang properti kian agresif menggarap hunian sekaligus penginapan di kawasan yang masuk provinsi Jawa Barat itu.

Selain menyodorkan hijaunya pepohonan dan sejuknya udara pegunungan, kawasan Puncak juga punya seabrek obyek wisata. Sebut saja misalnya wisata perkebunan teh, taman bunga, air terjun, aneka permainan, hingga wisata olah raga ekstrim seperti para layang dan gantole.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, pertumbuhan jumlah wisatawan ke kawasan Puncak meningkat rata-rata 3,9% pertahun. Pada 2014, tercatat sebanyak 1.102.608 orang, sedangkan pada 2015 sebanyak 1.335.443 orang. Dengan mengacu angka pertumbuhan itu akan terdapat sekitar 1,74 juta wisatawan pada 2016.

Saat ini, setidaknya terdapat 24 hotel dengan kapasitas 1.825 kamar. Jumlah itu dinilai masih belum berimbang dengan terus meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan Puncak.

Investasi Menguntungkan

Kawasan Puncak tergolong dekat dari Jakarta. Dari segi jarak tak lebih dari 60 kilometer (km), sedangkan dari segi waktu dapat ditempuh sekitar satu jam dalam situasi normal. Karena itu, tak heran kawasan pariwisata itu menjadi destinasi favorit warga Jakarta ketika memasuki akhir pekan atau musim libur telah tiba.

Gemuruh para pengembang properti merangsek ke kawasan Puncak mulai kian terasa sejak tiga tahun terakhir. Di mulut kawasan Puncak, yakni dari arah Jakarta, hadir proyek Bhuvana Condotel and Apartment sejak 2014. Selain itu, ada proyek properti terpadu Vimala Hills yang bakal dilengkapi dengan hunian villa dan apartemen, serta penginapan berupa hotel.

Sedangkan di penutup kawasan Puncak, tentu jika dilihat dari arah Jakarta, ada proyek Sahid Eminence Ciloto dan Hotel Aston Ciloto. Keduanya masih dalam pembangunan dan terletak Ciloto, Cianjur.

Wisatawan terbang menggunakan paralayang di kawasan Bukit Paralayang, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/5). Paralayang atau paradigling merupakan salah satu aktivitas wisata yang ramai dilakukan wisatawan dalam memanfaatkan libur panjang akhir pekan di kawasan Puncak. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/kye/16

Wisatawan terbang menggunakan paralayang di kawasan Bukit Paralayang, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/5). Paralayang atau paradigling merupakan salah satu aktivitas wisata yang ramai dilakukan wisatawan dalam memanfaatkan libur panjang akhir pekan di kawasan Puncak. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/kye/16

Mereka hadir tak semata memincut wisatawan untuk menginap atau menggelar pertemuan bisnis di kawasan wisata tersebut. Lebih dari itu mereka juga memincut para calon investor dengan segala fasilitas dan iming-iming imbal hasil investasi yang memadai. “Bagi pembeli kondotel Aston Ciloto akan mendapatkan yield berkisar 12-16% per tahun,” kata Business Development, Sales & Marketing Director PT Indra Megah Makmur (IMM), Fritz Pangabean.

Hotel Aston Ciloto terdiri atas hotel dan kondominium hotel (kondotel). Dari 153 unit yang disediakan hanya 80 unit yang dilego kepada investor. Unit itu dibanderol berkisar Rp 1,3 miliar – Rp 1,5 miliar per unit dengan ukuran 28 meter persegi (m2).

“Hotel Aston Ciloto dibangun mulai 2017 dan ditargetkan sudah beroperasi pada 2019. Sedangkan investasi pembangunan hotel ini senilai Rp 180 miliar,” katanya.

Rudy Margono, Chief Executive Officer (CEO) Gapuraprima Group bahkan berani menyebutkan keuntungan lainnya jika investor membeli apartemen atau kondotel di kawasan Puncak. Gapuraprima melalui anak usahanya, PT Ciawi Megah Indah membangun Bhuvana Condotel and Apartment, Ciawi, Bogor. “Sejak diperkenalkan ke pasar tahun 2014 hingga kini, capital gain berkisar 10-15%. Sedangkan yield yang ditawarkan Bhuvana berkisar 7-10% per tahun,” papar dia kepada Investor Daily, di Ciawi, beberapa waktu lalu.

Proyek Bhuvana Condotel and Apartment kini diklaim terjual 70% dan ditargetkan ludes terjual pada September 2016. Proyek besutan Gapuraprima Group itu kelak diisi dengan tiga menara yang mencakup apartemen dan kondotel.

“Kami optimistis penjualan menara pertama bisa rampung pada September 2016,” jelas Rudy Margono.

Proyek yang bakal dioperasikan oleh Grand Horison itu berdiri di atas lahan seluas 21.000 m2 dengan luas bangunan 54.000 m2. Sedangkan menara pertama berketinggian 20 lantai dengan kapasitas 101 apartemen dan 203 kondotel telah terjual 70%.

Menurut Rudy, optimisme pihaknya ditopang oleh sejumlah alasan. Pertama, lokasi proyek Bhuvana cukup strategis dan amat potensial. Kedua, kondisi makro ekonomi Indonesia kian membaik, khususnya untuk sektor industri properti. Sejumlah kebijakan pemerintah dinilai mendorong bergairahnya industri properti. “Contohnya terkait dengan penurunan suku bunga perbankan dan perampingan perizinan,” paparnya.

Bagi Marketing Director Gapura Prima Group Jenny Sulistyo, ada aspek lain lain yang bisa mendongkrak penjualan Bhuvana. Dia mencontohkan, pihaknya memberi rental guarantee sebesar 18% untuk dua tahun pertama. Lalu, profit sharing 70:30 dan free stay 30 point per tahun. “Dari total penjualan hingga saat ini, sebanyak 80% adalah produk kondotel dan 20% unit apartemen,” kata dia.

bhuvana gapura prima 2016

Bhuvana yang dirintis sejak 2014 itu juga diklaim sebagai bangunan tertinggi pertama di Kabupaten Bogor. Direktur PT Ciawi Megah Indah, Taufik Zaenal menjelaskan, Bhuvana mulai dirintis oleh pihaknya pada 2014. Perkembangan pembangunan hingga April 2016 telah memasuki tahap struktur atas bangunan, yakni lantai enam. “Kami menargetkan pembangunan menara pertama rampung pada September 2016,” ujarnya.

Bersaing Konsep

Bagi Vice President Corporate Marketing PT Agung Podomoro Land Tbk, Indra W Antono, memincut minat calon konsumen tak semata soal kualitas bangunan dan imbal hasil. Ada aspek penting lainnya yang tak boleh dilupakan para pengembang properti.

“Konsep kami yang terutama adalah mengembangkan proyek terintegrasi. Di satu areal terdapat segenap fasilitas bagi para penghuninya,” tutur dia kepada Investor Daily, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Podomoro Land menggarap proyek Vimala Hills Villa and Resort, Bogor melalui anak usaha PT Putra Adhi Prima. Di proyek itu selain terdapat hunian berupa villa dan apartemen, juga terdapat hotel Pullman dengan salah satu fasilitasnya adalah ruang pertemuan yang memadai. Saat ini, Vimala Hills mencatat penjualan sekitar 92% dari total 600 villa yang ditawarkan. Proyek yang digarap itu kini menyisakan satu klaster.

Kini, anak usaha PT Agung Podomoro Land Tbk itu juga berancang-ancang menggerojok pasar dengan produk hunian vertikal. Setidaknya dua menara dengan kapasitas 500 unit apartemen menjadi alternatif investasi bagi para investor properti. “Saat ini sudah terjual 550 unit villa di Vimala Hills, kami optimistis dapat terserap pasar seluruhnya,” kata Indra W Antono.

Pembangunan Vimala Hills dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama terdapat enam klaster. Tahap kedua mencakup klaster Pangrangi Ekstension, fasilitas, Vimala View, dan Hotel Pullman. Sedangkan tahap ketiga terdapat lima klaster, yakni Kinabalu, Kilimanjaro , Alpen, Everest, dan Himalaya.
Tentu setiap srategi atau konsep punya alasan. Pengelola dan pemilik Sahid Eminence Ciloto, misalnya, sama-sama berupaya menonjolkan konsep untuk menggaet konsumen maupun para tamu.

Sang pengembang, PT Kurnia Land menegaskan bahwa salah satu keunggulan proyeknya adalah letaknya yang amat strategis. Direktur Utama PT Kurnia Land, Zaid Mahdani pernah mengatakan, proyek strategis karena terletak 150 meter dari Jalan Raya Puncak. Selain itu, berdekatan dengan Puncak Pass, Taman Cibodas, dan Gunung Gede Pangrango, serta Istana Presiden Cipanas.

apartemen kondotel ciawi bogor

Bagi sang pengelola, yakni kelompok Sahid, tak hanya soal lokasi tapi juga ditopang oleh fasilitas dan konsep. Vice President PT Sahid International Hotel Management & Consultant, Exacty B Sryantoro mengatakan, proyek kondotel ini memiliki banyak perbedaan dengan hotel lainnya. Dari konsep yang ditawarkan, fasilitasnya sangat menarik karena menyatu dengan alam. Selain itu, ada pula beberapa fasilitas yang mengkombinasikan dengan lingkungan sekitar, sehingga memiliki perbedaan dengan hotel lainnya.

Sahid Eminence Ciloto berdiri di atas lahan berkontur dengan luas 6,4 ha. Hotel dengan total 370 kamar ini didukung dengan fasilitas conventions seluas 1.100m2. Kondotel ini dijadwalkan melakukan soft opening pada September 2016 dan grand opening Desember 2016.

Tipe ruang yang ditawarkan di Sahid Eminence Ciloto, dirancang untuk keluarga dengan tipe mulai dari 40 m2 hingga 164 m2. Proyek ini mengusung konsep hotel bisnis dan resort mewah bintang empat. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: