Skip to content

Pengalaman “Dicium” Ibu-ibu Muda Jakarta

18 Mei 2016

pelat nomor rusak ditabrak

BERSEPEDA MOTOR pada sore hari di tengah lalu lintas jalan Jakarta punya cerita tersendiri. Bagaimana tidak, arus kendaraan bermotor dalam kondisi puncak-puncaknya terutama di simpul-simpul arah keluar kota. Maklum, ketika itu para warga pinggiran dan warga komuter Jakarta sedang bergerak pulang seusai beraktivitas sehari-hari.

Rentang waktu sore hari, yakni pukul 15.00-18.00 WIB merupakan masa puncak pergerakan kendaraan selain pagi hari, pukul 06.00-09.00 WIB. Dalam catatan Ditlantas Polda Metro Jaya, rentang waktu paling rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan ada di area waktu tersebut.

Rentang pukul 06.00-09.00 WIB menempati posisi pertama. Pada 2014, area waktu tersebut menyumbang kecelakaan paling wahid, yakni sebanyak 14,78% dari total kasus kecelakaan. Kontribusi itu setara dengan 2,42 kecelakaan per hari. Sedangkan rentang waktu kedua yang paling rawan adalah di area jam 15.00-18.00 WIB. Rentang waktu ini menyumbang sebanyak 13,98% atau 2,28 kasus per hari.

Nah, fakta data itu menjadi kian relevan ketika akhirnya saya ikut mencicipi kecelakaan ringan pada Rabu, 18 Mei 2016 sore. Saat itu saya sedang merayap di kemacetan lalu lintas jalan menjelang perempatan Tomang, Jakarta Barat dari arah Grogol. Semula, sepeda motor saya berada di tengah himpitan mobil. Lalu, saya coba bergerak di sisi paling kiri jalan.

Setelah mengamati situasi dan bergerak amat lambat, saya pun membelokkan si kuda besi ke kiri jalan melintas di depan sebuah multi purpose vehicle (MPV) sport warna metalik. Baru saja menongolkan roda bagian depan, tiba-tiba terdengar teriakan yang dibarengi dengan sebuah benturan. Jadilah roda depan saya “dicium” oleh ibu-ibu muda penunggang sepeda motor bebek.

Posisi saya nyaris jatuh. Bertumpu pada kaki dan bagian belakang mobil membuat spion melengkung. Sedangkan benturan tadi membuahkan rusaknya dudukan pelat nomor bagian depan. Dudukan pelat nomor retak dan tempat baut pecah.

Ibu-ibu muda tadi tidak sendiri. Di motor yang tanpa pelat nomor belakang itu dua orang lainnya. Di bagian belakang ada perempuan muda dan di bagian depan ada anak-anak di bawah umur. Tak ada perbincangan permintaan maaf, sang “pencium” tadi terus melenggang di tengah kepadatan kendaraan bermotor. Barangkali, saya dianggap bersalah juga sehingga tak perlu ada tegur sapa.

Kembali soal kecelakaan di rentang waktu 15.00-18.00 WIB. Boleh jadi karena para pengendara sudah dalam kondisi lelah atau terburu-buru untuk mencapai rumah. Kondisi lelah setelah beraktivitas seharian memang amat potensial merusak konsentrasi berkendara.

Rasanya, mempertahankan konsentrasi perlu dilakukan. Salah satunya, tentu dengan terus fokus dan waspada. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 18 Mei 2016 20:50

    kirain dicium orngnya wkwkwk

    https://reardiscbrakes.wordpress.com/2016/05/18/penjualan-roda-dua-bulan-april-yamaha-meningkat-tapi-honda-tetap-menguasai-semua-segmen/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: