Skip to content

Near Miss dengan ABG Jakarta

16 Mei 2016

pesepeda motor di jakarta1

Ada-ada saja ulah pengendara sepeda motor di Jakarta. Kali ini sepasang ABG puteri nyaris menyulut petaka di jalan raya.

Suatu sore di sudut kota Jakarta Timur lalu lintas jalan ramai lancar. Jalan di pinggir kota berusia 467 tahun itu aspalnya mulus. Lebarnya bisa dilalui dua mobil multi purpose vehicle (MPV) berpapasan. Aneka kendaraan bermotor wira-wiri dua arah.

Cuaca mendung tipis sore itu. Saya melenggang dengan kecepatan berkisar 40-50 kilometer per jam (kpj). Di depan saya tampak sejumlah kendaraan, termasuk sepeda motor skutik yang berjarak sekitar 15 meter. Motor itu ditumpangi dua ABG puteri.

Oh ya, ABG adalah akronim untuk anak baru gede, sebutan bagi anak-anak remaja atau anak-anak di bawah umur.

Terasa ada gelagat tidak beres. Benar juga. Pesepeda motor di depan saya tiba-tiba berhenti yang tentu saja menghalangi jalan. Praktis saya pun mengerem. Terdengar suara klakson mobil dari arah belakang saya. Saat bersamaan saya juga membunyikan klakson motor.

Setelah berhenti mendadak, pengendara sepeda motor ABG itu barulah menyalakan lampu sen belok kiri. Sang penumpang yang tangannya menggenggam ponsel menunjuk ke arah kiri jalan seakan memberi aba-aba kepada sang pengendara untuk berbelok. Lalu, motor skutik tadi berbelok kiri yang membuat para pengendara di belakangnya terperanjat.

Tak ada permintaan maaf atas tindakan pengereman mendadak yang membuat suasana tidak nyaman. Sang penumpang sepeda motor justeru menolehkan wajahnya sambil melotot ke arah saya. Barangkali kedua ABG puteri tanpa helm itu beranggapan bahwa bapak tua pengendara motor bawel membunyikan klakson.
Andai saya tidak mengerem dengan baik bukan mustahil terjadi tabrak belakang. Insiden atau nyaris kecelakaan (near miss) tadi dapat menjadi pembelajaran penting bagi saya. Salah satunya adalah terus menjaga konsentrasi saat berkendara dan tentu saja harus senantiasa menjaga jarak aman.

Insiden adalah situsi yang nyaris menimbulkan kecelakaan. Dalam insiden, tidak ada kerugian atau korban. Sebaliknya, kecelakaan adalah peritistiwa yang menimbulkan kerugian baik itu barang maupun korban luka hingga meninggal dunia.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, sepanjang lima tahun terakhir, yakni 2010-2015, setiap hari rata-rata ada 13 anak menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Di sisi lain, pada periode yang sama, setiap hari ada 86 anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan. Mereka ada yang menderita luka ringan, luka berat, dan meninggal dunia. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. Sireng permalink
    17 Juli 2016 18:42

    Kalo sampe ketabrak yg disalahin mobilnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: