Skip to content

Alasan Sang Nenek Bersepeda Motor Tanpa SIM

13 Mei 2016

razia lalu lintas di jakarta1

Fakta di sekeliling kita memperlihatkan sepeda motor menjadi primadona angkutan orang. Walau, belakangan juga marak menjadi angkutan umum. Pastinya si kuda besi dinilai sebagai solusi kebutuhan transportasi.

Para penunggang sepeda motor memanfaatkan kendaraannya untuk kegiatan sehari-hari. Ada yang dipakai untuk sekadar beranjangsana. Lalu, untuk mencari rezeki dan menuntut ilmu. Bahkan, untuk berrekreasi hingga keluar kota.

Tak heran jika kemudian populasi sepeda motor mencapai berkisar 60-80 juta unit di seluruh Indonesia. Jauh dibandingkan populasi mobil yang belasan juta unit.

Bila di Tanah Air saat ini 250 juta jiwa, artinya satu sepeda motor berbanding 4-5 penduduk. Di kota-kota tertentu, seperti Jakarta, jumlah sepeda motor bisa mendekati jumlah penduduknya. Bahkan, satu rumah bisa diisi dua hingga tiga sepeda motor.

Pengguna sepeda motor pun kian beragam. Tak lagi para pria dan perempuan dewasa. Kini, para remaja, usia lanjut, bahkan anak-anak di bawah umur terlihat wira-wiri menunggang si roda dua. “Saya naik motor untuk antar jemput sekolah dan mengantar barang dagangan,” ujar seorang nenek bercucu satu, saat berbincang dengan saya pada suatu ketika di Jakarta.

Dia melanjutkan, awalnya naik sepeda motor masih takut-takut. Namun, karena terpaksa untuk menghemat ongkos akhirnya belajar mengendarai sendiri sepeda motor. Itu pun, kata dia, baru sebatas sekitar perkampungan tempat dirinya tinggal. “Sampai sekarang saya nggak punya SIM. Lagian, kan nggak ke jalan raya utama yang banyak polisi,” tambah dia.

Pengurusan SIM atau surat izin mengemudi, katanya, terlalu ribet. Selain itu, biayanya mahal.

Pada kesempatan lain, saya juga berbincang dengan nenek dua cucu yang nekat bersepeda motor hingga ke jalan raya utama sekalipun tidak punya SIM. “Kalau naik motor kan bisa kemana-mana, lagian bisa irit daripada naek angkutan umum,” sergah sang nenek itu.

Dia mengaku pernah kena razia, namun akhirnya lolos karena belum sempat diperiksa surat-suratnya. “Waktu itu udah deg-degan, tapi cuma ditanya mau kemana? Saya bilang mau pulang ke rumah, eh lolos deh,” ujarnya.

Sang nenek itu mengaku ingin membuat SIM. “Tapi, tempatnya jauh, lagian biayanya mahal yah?” Sergah dia.

Dua nenek mendekati usia lima puluh tahun itu menjadi potret kehidupan kita sehari-hari. Tak heran jika fakta memperlihatkan bahwa mayoritas pelaku kecelakaan adalah pengendara yang tanpa SIM. Entah karena belum sempat mengurus, masih di bawah umur, atau karena beranggapan membuat SIM itu biayanya mahal. Ironisnya, ketika kena razia cuma berujar, “Apes.” (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. Vrye permalink
    13 Mei 2016 14:20

    Siapa bilang mahal… nda koq.. coba lihat di papan pengungumannya… hanya saja klo mengikutin itu sampai lo masuk kubur, tulang jd tanah.. lo nda bakalan punya sim..hahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: