Skip to content

Menyaksikan Aksi Melawan Arah yang Mendebarkan

6 Mei 2016

lawan arah bertiga

ADEGAN melawan arah di jalan raya menjadi santapan sehari-hari. Ironisnya, alasan utama yang sering mencuat adalah untuk memangkas jarak tempuh. Inilah mentalitas jalan pintas alias enggan antre.

Pengguna jalan seakan frustasi menghadapi arus lalu lintas jalan yang karut marut. Di Jakarta misalnya. Kendaraan bermotor tumpah ruah. Bahkan, banyak kendaraan yang meluber hingga ke bahu jalan dan trotoar. Bahu jalan yang semestinya sebagai jalur darurat disantap sebagai jalur menghindar dari kemacetan. Begitu juga dengan trotoar yang notabene adalah hak pedestrian menjadi bancakan para pesepeda motor yang ogah antre. Runyam.

Dalam kasus melawan arah, segudang fakta memperlihatkan bahwa kedisiplinan sudah luluh lantak oleh mentalitas jalan pintas. Nyaris seluruh jenis kendaraan bermotor asyik mahsyuk melawan arah. Ironisnya, aksis merampas hak pengguna jalan itu dilakukan berjamaah. Bersatu kita bisa, barangkali begitu yang ada di benak para penjarah jalan raya itu.

Di Jakarta, adegan melawan arah bahkan bercampur aduk dengan sekaligus melibas trotoar. Pesepeda motor yang enggan berputar arah di tempat yang semestinya memilih merangsek trotoar seraya melawan arah.

Ada adegan yang lebih ironis. Pada suatu pagi yang cerah di salah satu sudut jalan Jakarta Selatan saya menyaksikan aksi melawan arah yang mendebarkan. Bagaimana tidak, satu sepeda motor ditumpangi tiga orang. Ketiganya tidak memakai helm sambil melawan arah. Dan, ironi terlihat di atas sepeda motor itu berdiri seorang bocah balita. Amat mungkin sebuah ‘pendidikan’ sedang berlangsung kepada sang bocah bahwa naik motor bertiga tidak apa-apa. Lalu, naik motor tanpa helm sah-sah saja. Dan, ini yang ironis, melawan arah menjadi kebutuhan ketika hendak memangkas jarak dan waktu tempuh. Ngeri.

Bisa jadi proses ‘pendidikan’ itu tidak disadari oleh para orang dewasa yang membawa bocah di kendaraannya. Namun, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereduksi perilaku melanggar aturan yang sudah ‘tertanam’ sejak dini. Boleh jadi butuh waktu amat lama untuk membongkar mindset keliru yang terlanjur tertanam tersebut. Inilah pekerjaan berat ketika para orang dewasa menyepelekan sesuatu yang buahnya bisa amat pahit pada kemudian hari.

Fakta lain di jalan raya adalah bahwa perilaku melanggar aturan alias ugal-ugalan amat mungkin memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Salah satu fakta memilukan kecelakaan melawan arah terjadi beberapa waktu lalu ketika sebuah sepeda motor bertabrakan dengan mobil di jalan layang non tol Casablanca, Jakarta Selatan. Sang penumpang, perempuan yang sedang hamil tewas, sedangkan sang pengendara terluka.

Banyak lagi contoh melawan arah yang memicu terjadinya kecelakaan. Entah disegaja atau tidak, ketika masuk ke arah berlawanan amat riskan bagi keselamatan semua pengguna jalan. Bila kita tahu benihnya adalah mentalitas jalan pintas, yakni mental ogah antre, rasanya menghapus perilaku melawan arah adalah dengan menanamkan budaya disiplin. Disiplin demi keselamatan bersama, tentu termasuk orang tercinta yang menanti di rumah. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: