Skip to content

Pengakuan Ibu Pemakai Sarung Setang Motor

3 Mei 2016

sarung-stang-motor

SUATU petang saya berbincang dengan kolega saya di kantor. Awalnya, kami berbincang soal perilaku perempuan pengendara sepeda motor yang dituding suka semena-mena. Maksudnya, kadang berbelok tanpa memberi lampu isyarat. Atau, lampu isyarat yang dinyalakan berbeda dengan arah berbelok si empunya motor.

“Kadang bikin kita bingung di jalan raya,” papar kolega saya, di Jakarta, suatu petang pada penghujung April 2016.

Kami sedikit menyamakan pandangan bahwa perilaku berkendara yang semena-mena tidak monopoli gender tertentu. Hampir semua jenis pengendara melakukan hal itu. Belum ada riset yang membuktikan bahwa gender tertentu lebih ugal-ugalan. Kalau soal fakta yang ada, gender tertentu memonopoli sebagai pelaku maupun korban kecelakaan. Itu fakta data.

Nah, perbincangan kami topiknya bergeser ketika dia melontarkan soal pemakaian sarung tangan khas yang belakangan digandrungi pesepeda motor perempuan. “Bentuknya khas, penasaran aja apakah itu tidak mengganggu waktu mengendarai motor yah. Pingin rasanya caritahu,” kata pria muda itu.

Hal serupa sebenarnya saya rasakan, yakni ingin tahu bagaimana sih sarung tangan itu. Sepintas, bentuknya yang melebar dan melampaui pergelangan tangan seperti mengganggu sang pemakainya.

“Saya sih nggak merasa terganggu, justeru terbantu daripada memakai sarung tangan kulit atau yang biasa,” ujar seorang perempuan pesepeda motor saat berbincang dengan saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Kami sempat berbincang di sela menanti perubahan lampu pengatur lalu lintas dari merah menjadi hijau. Percakapan pun meluas. Mulai dari berapa harganya hingga belinya di mana. “Saya beli harganya Rp 20 ribu di dekat tempat tinggal saya,” tambah perempuan yang memakai jaket warna hijau ojek berbasis aplikasi.

Saat itu, dia sedang membawa penumpang. Keduanya memakai helm berwarna hijau. “Oh ya, ini tidak mengganggu karena ada bagian jempolnya. Dan, sarung tangan ini ada pengikatnya sehingga tidak jatuh,” tambah perempuan yang saya perkirakan berusia sekitar 30 puluh tahunan.

Dia memperagakan bagaimana dengan gampangnya mencopot sarung tangan itu, lalu kembali memasukan tangannya. Di bagian bawah sarung tangan ternyata menyentuh langsung bagian setang motor sehingga dianggap tidak mengganggu saat menggenggam setang motor.

Lampu pun berubah menjadi hijau. Percakapan kami terhenti. Perempuan itu melaju dengan lincah di keramaian lalu lintas jalan di pinggiran Jakarta Selatan.

Dari penelusuran di media online saya mendapati bahwa sarung tangan itu populer disebut sarung tangan motor alias satamo. Dalam laman sarungstangmotor.blogspot.com disebutkan bahwa ada empat tipe satamo.

Bahkan, di laman tokopedia ditulis bahwa sarung stang motor matic sangat populer di Hong Kong sejak tahun 2014. Saat ini sedang tren di kota-Kota Besar di sebagian Jawa, seluruh kota di Kalimantan, dan sebagian di Sumatera.
Pernah mencoba? (edo rusyanto)

sumber foto dari sini

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: