Skip to content

Penyepelean Pemakaian Helm Masih Berlangsung

30 April 2016

helm perempuan meja

KESEHARIAN kita di jalan raya berhadapan dengan permisifme yang luar biasa. Bahkan, kesan menyepelekan keselamatan saat belalu lintas jalan demikian kentara. Salah satunya tentu saja terkait dengan pemakaian helm pelindung kepala ketika bersepeda motor.

Dalih tidak memakai helm, seperti sering kita dengar, masih berkutat soal jarak tempuh yang dianggap dekat. Misal, dari rumah ke pasar di dekat tempat tinggal. Atau, dari rumah ke depan kawasan kompleks perumahan.

Anggapan jarak dekat terkesan lebih kepada persoalan tilang menilang. Maksudnya, karena dianggap tidak akan ada yang menindak akibat pelanggaran tersebut jadilah sang pesepeda motor yang bersangkutan santai-santai saja. Ini baru sekadar kesan. Faktanya?

Kesan tadi mengingat pada faktanya tingkat kekerasan permukaan jalan raya di sekitar tempat tinggal dengan jalan nan jauh disana nyaris tidak ada beda. Aspal, beton, atau jalan tanah sekalipun akan amat berisiko ketika berbenturan langsung dengan kepala.

Jadilah kita berhenti pada kesimpulan soal penyepelean pemakaian helm. Sekali lagi, hal itu dengan asumsi bahwa tingkat kekerasan permukaan jalan di seantero negeri rasanya memiliki kekuatan yang sama.

Fakta lain di masyarakat kita tentu saja masih banyak yang tingkat kesadarannya cukup tinggi terkait pemakaian helm. Mereka tak pernah mengenal jarak berkendar. Helm pelindung kepala senantiasa dipakai manakala bersepeda motor. Bahkan, ada diantara mereka yang menempatkan helm sebagai salah satu bagian dari gaya hidup. Tak heran jika kelompok yang ini rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli helm yang diinginkan, selain untuk perlindungan juga sekaligus mempermanis penampilan.

Kecintaan pada helm tak semata soal corak dan harga maupun fungsi, tapi juga diperlihatkan dengan tingkat perawatan yang maksimal. Hal itu termasuk bagaimana secara berkala membersihkan atau mencuci helm secara detail. Di bagian lain, masih soal urusan merawat helm, dipilih tempat penyimpanan yang aman dan nyaman. Aman dari si tangan panjang dan nyaman karena ditempatkan di area yang tidak riskan oleh gesekan dengan benda lain, termasuk jatuh dari ketinggian.

Sampai-sampai ada yang menyimpan helm disamping meja kerja. Ada juga yang membungkus helm dengan rapi lalu ditempatkan di loker kerja. Mereka begitu peduli kepada helm yang diyakini ikut membantu melindungi kepala jika terjadi insiden atau kecelakaan di jalan raya.

Maklum, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, di negara-negara tertinggal dan berkembang, cedera kepala diperkirakan berkontribusi sekitar 88% terhadap kematian pesepeda motor. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Eropa yang diperkirakan sekitar 75%.

WHO juga bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Tak heran jika lantas pemerintah Indonesia mengatur pemakaian helm secara serius di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan itu bilang, pengendara maupun penumpang wajib memakai helm. Bahkan, helmnya pun diatur, yakni harus memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI).

Bagi para pelanggar aturan tersebut akan diancam sanksi denda maksimal Rp 250 ribu. Atau, sanksi penjara maksimal satu bulan.

Lantas, kenapa mesti menyepelekan pemakaian helm? Lupakah kita bahwa hal gede kerap diawali oleh soal yang dianggap sepele. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 16 Mei 2016 15:40

    apakah pemakaian helm terlalu lama agak mengangu kesehataam?

Trackbacks

  1. Penyepelean Pemakaian Helm Masih Berlangsung — Edo Rusyanto’s Traffic | Suetoclub's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: