Skip to content

Tayangan TV Cerminan Masyarakat Kita

23 April 2016

global tv menelepon nyetir1

TELEVISI (TV) menjadi bagian hidup masyarakat. Coba lihat di sekitar, mau itu di desa atau kota, TV menjadi teman di ruang-ruang keluarga.

Substansi materi siaran TV setidaknya berkutat pada informasi, edukasi, dan rekreasi. Khusus untuk bagian yang ketiga, rasanya justeru menempati porsi yang dominan. TV menjadi tempat memenuhi dahaga akan hiburan yang amat terjangkau.

Kemasan hiburannya pun seabrek. Mulai dari musik, sinetron, film hingga tayangan talkshow dan reality show.

Tentu saja TV mampu mempengaruhi gaya hidup masyarakat kita. Masih ingat bocah bernama Daffa yang tinggal di Semarang, Jawa Tengah?

Dia mengaku salah satu yang menginspirasi polahnya adalah tayangan TV. Bocah itu mempertahankan trotoar sebagai hak pedestrian dengan gagah berani. Dia mengadang pesepeda motor yang melintas di trotoar di kawasan Jl Sudirman, Semarang. Bahkan, sudah 40 pesepeda motor yang “tegurnya.”

Banyak fakta lain yang menunjukan bahwa TV mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Atau, masyarakat mempengaruhi tayangan yang dihasilkan TV. Tapi, saya cenderung melihat bahwa kekuatan TV lebih kuat posisi tawarnya dibandingkan masyarakat. Di balik TV ada kekuatan modal yang bisa memproduksi beragam materi siaran. Tapi, setidaknya dapat kita simpulkan bahwa siaran TV juga adalah cerminan kondisi masyarakatnya.

Ketika materi tayangan mempertontonkan adegan naik sepeda motor tanpa helm, begitulah kondisi masyarakat saat ini. Begitu juga ketika TV menayangkan adegan mengemudi sambil menelepon, boleh jadi keseharian perilaku itu memang ada di tengah masyarakat kita.

Tapi, kalau kita kembali pada tiga substansi materi siaran TV, yakni informasi, edukasi, dan rekreasi, penyelenggara siaran TV juga dituntut punya peran edukasi yang mumpuni. Maksudnya, produk tayangan selaras dengan regulasi yang berlaku. Dalam kasus tayangan menelepon sambil nyetir atau naik sepeda motor tanpa helm, semestinya penanggung jawab siaran memahami regulasi yang berlaku. Kita tahu, regulasi terkait hal ini tertuang dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

UU itu dengan tegas melarang setiap pengendara berponsel sambil mengemudi. Maklum, aktifitas itu bisa mengganggu konsentrasi sang pengemudi yang buntutnya bisa memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Lazimnya sebuah aturan, ada sanksi yang mengancam bagi pengemudi yang melanggar aturan itu yakni denda maksimal Rp 750 ribu atau pidana penjara maksimal tiga bulan.

Begitu soal helm sepeda motor. UU tersebut mewajibkan setiap pengendara dan penumpang sepeda motor wajib memakai helm. Mereka yang melanggar bisa kena semprit denda maksimal Rp 250 ribu atau pidana penjara satu bulan.

Ada yang menarik dari sebuah tayangan di stasiun Global TV, Sabtu, 23 April 2016 pagi. Tayangan bertajuk “Eksis” memperlihatkan sang pembawa acara (host) naik sepeda motor tanpa memakai helm. Begitu juga dengan sang pengendaranya yang disebut sebagai tukang ojek.

Ketika sang host yang menjadi penumpang sudah tiba di tujuan dia berujar, “Lain kali bawa helm. Jangan alasan dekat doing (nggak bawa helm). Kalau ada polisi bisa ditilang. Terus, Kalau jatuh, pala eike bagaimana? Besok-besok bawa helm yah.”

Penggalan tayangan itu cukup menggelitik. Barangkali itu cara TV menyindir sekaligus mengedukasi para penontonnya bahwa naik sepeda motor wajib memakai helm. Bukan semata soal hukum, tapi terutama demi keselamatan sang pengendara dan penumpang. Keren juga cara edukasinya.

Tapi, di stasiun TV yang sama, pada Jumat, 22 April 2016 pagi saya menyaksikan adegan yang cukup memprihatinkan. Acara bernama ‘Kongkow Car’ itu tampak sang host dengan entengnya menelepon sambil mengemudi. Sang pengemudi yang memakai seragam hansip memang mengenakan seat belt (sabuk pengaman), namun menelepon sambil mengemudi rasanya tidak elok. Dan, seperti sudah kita singgung di atas, adegan itu melanggar aturan yang berlaku di Indonesia.

Padahal, sejumlah adegan yang dianggap melanggar aturan, seperti soal pornografi, merokok, dan kekerasan, pihak TV kerap mengaburkan gambar adegan itu. Lantas, kenapa adegan melanggar UU No 22/2009 tentang LLAJ tidak diterapkan hal yang sama? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 23 April 2016 14:53

    lama ga mampir kemari…
    belum pernah liat acaranya seperti itu sih (sambil liat gambar)… cuman pas iklan sering liat… dan sekarang banyak banget yang model begitu di masyarakat… diinstagram banyak banget yang upload video onboard lagi gojekan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: