Skip to content

Jejak Laksamana Tiongkok di Masjid Cheng Ho Batam

16 April 2016

masjid ceng ho  batam

SUARA alunan ayat-ayat suci berkumandang dari pengeras suara. Terdengar syahdu. Langit tampak mendung tipis, sedangkan sejumlah umat Islam tampak mulai berdatangan ke masjid berwarna merah menyala. Ada yang datang berjalan kaki, ada juga yang bersepeda motor.

Di bagian lain, tampak sejumlah wisatawan Nusantara mengabadikan masjid yang berdiri di tengah kawasan wisata tersebut. Sebagian besar dari wisatawan yang datang dari berbagai kota di Indonesia itu sekaligus menunaikan ibadah Sholat Jumat di masjid yang dominan oleh sajadah berwarna merah. Selaras dengan warna interior yang dominan berwarna merah juga. Masjid memiliki kemampuan sekitar 100 jamaah di bagian dalam.

Ya, itulah Masjid Cheng Ho. Kini, saat Anda mengunjungi Batam, Kepulauan Riau ada satu lagi lokasi yang layak disinggahi, yakni masjid dan replika kapal Laksamana Cheng Ho. Bagi umat Islam yang hendak beribadah, Masjid Cheng Ho terletak di kawasan wisata Golden Prawn, Bengkong Laut, Kecamatan Bengkong, Kota Batam. Satu lagi icon Batam selain Masjid Raya Batam yang berdiri megah di pusat kota.

“Banyak wisatawan yang selain berkunjung ke kawasan wisata Golden Prawn juga sekaligus sholat di masjid Ceng Ho,” papar seorang pemandu wisata saat berbincang dengan saya, Jumat, 15 April 2016 siang.

Masjid yang dibangun oleh pengusaha Batam itu diresmikan oleh dua menteri sekaligus, yaitu Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Dwisuryo Indroyono Soesilo. Peresmian masjid berukuran 20×30 meter itu dilakukan pada Sabtu, 21 Februari 2015. Prasasti peresmian diletakan persis di depan masjid yang berdiri atas lahan seluas 40×40 meter tersebut.

Selain bangunan masjid, di sisi kanannya terdapat sebuah bangunan lain yang dapat dimanfaatkan untuk beristirahat. Bangunan itu juga dapat dimanfaatkan bagi pengunjung untuk berkumpul dan mengobrol.

“Aku mau dong difotoin,” ujar seorang perempuan muda wisatawan asal Tangerang, Banten.

Dia pun berpose menyilangkan tangan sambil berdiri di pelataran masjid yang juga berpagar warna merah itu. Senyum mengembang secerah corak baju sang perempuan yang berwarna merah. Sedangkan sang pria muda yang memotretnya kemudian juga minta difoto.

masjid batam pengunjung

Di Indonesia, jejak Laksmana Cheng Ho dapat dijumpai di sejumlah wilayah di Indonesia. Sebuah catatan yang ditempelkan di dinding bangunan kedua di sebelah masjid diuraikan sekilas sejarah Laksamana Cheng Ho. Begini catatannya.

Laksamana Cheng Ho adalah laksmana laut yang datang dari negeri Tiongkok. Dia dipercaya memimpin ekspedisi pelayaran dengan membawa lebih kurang 27 ribu anak buah menuju Indonesia. Hal ini terjadi tujuh kali dalam kurun waktu tahun 1416. Kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut baik oleh para raja-raja dan penduduk Indonesia saat itu.

Masih menurut catatan itu, Laksmana Cheng Ho tercatat pernah singgah di Aceh dan Palembang, serta sejumlah kota lainnya di Jawa, salah satunya di Semarang, Jawa Tengah. Beberapa peninggalannya dapat dilihat di wilayah-wilayah itu seperti Masjid Cheng Ho di Palembang. Sedangkan di Semarang kita dapat menjumpai jejak-jejaknya di Klenteng Sam Poo Kong.

Laksamana Cheng Ho adalah muslim tulen anak dari pasangan Haji Ma Ha Zhi dan isterinya yang bermarga Oen (Wen) Tiongkok. Dia telah banyak melakukan kegiatan agama Islam di negaranya sebelum berpetulang keluar negeri. Sebagai muslim tulen dan laksmana laut yang kuat, kedatangan Cheng Ho ke Indonesia sekaligus melakukan misi pengembangan agama Islam. Laksamana Cheng Ho adalah seorang yang diberi kepercayaan oleh Kaisar Yongle yang berkuasa sepanjang 1403 hingga 1424.

Berdirinya Masjid Muhammad Cheng Ho ini adalah sebagai mengenang sejarah perjalanan dia bersama anak buahnya sekaligus menyebarkan agama Islam. “Masjid ini murni diprakarsai dan dibiayai sendiri oleh seorang pengusaha di Baram,” tulis catatan itu.

Ibadah sholat Jumat pun usai. Langit sedikit mendung dan rintik gerimis mulai berjatuhan dari langit. Sejumlah umat Islam yang usai beribadah tampak satu persatu mulai meninggalkan masjid. Wisatawan kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanannya. Sedangkan warga sekitar kembali ke tempat tinggal masing-masing. Ada yang berjalan kaki dan ada yang naik sepeda motor.

Mayoritas yang naik sepeda motor nampak tidak memakai helm. Mereka terdiri atas anak-anak remaja hingga orang tua. “Barangkali karena tempat tinggalnya dekat sehingga tidak pakai helm,” kata seorang pengunjung. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 19 April 2016 08:55

    menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: