Skip to content

Menikmati Keheningan di Eco Camp Bandung

27 Maret 2016

IMG-20160326-WA0038

KITA memasuki waktu hening. Silakan dengar suara alam sekitar, renungkan, tarik nafas dalam-dalam, dan lepaskan perlahan.

Dua kalimat itu terlontar dari Adi, seorang volunteer Eco Camp, Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Adi memimpin penjelasan mengenai aktifitas di Eco Camp yang memiliki total lahan seluas 8.000 meter persegi (m2) itu. “Waktu hening ada dua, yakni jam 12 dan jam 15 siang. Tujuannya agar kita sejenak terlepas dari rutinitas dan mendekatkan diri dengan alam,” papar pria muda berkaos merah itu, Sabtu, 26 Maret 2016.

Waktu hening berlangsung sekitar satu menit. Awal dan akhir ditandai oleh sebuah bunyi isyarat yang keluar dari pengeras suara. Urutan waktu hening dipandu oleh suara perempuan yang mengajak pengunjung untuk sejenak menghentikan seluruh aktifitas untuk merenung.

Mendekatkan diri pada alam, bersahabat pada alam, dan lebih peduli dengan sesama manusia menjadi tiga pesan inti yang begitu kentara di Eco Camp. Kawasan yang dibesut oleh Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup ini hadir memberi oase bagi padatnya kehidupan kita saat ini. “Salah satu cara kami adalah meredam pemanasan global. Kami tidak menyediakan makanan berupa daging di Eco Camp karena industri peternakan adalah penyumbang terbesar pemanasan global,” tutur Adi.

Dia mengaku, pihaknya mengusung ‘Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis’ yang ingin ditularkan kepada para pengunjung Eco Camp. Ketujuh Kesadaran itu mencakup; berkualitas, sederhana, hemat, peduli, semangat berbagi, bermakna, dan harapan. Kesadaran itu disebarkan lewat beragam program yang disediakan pengelola Eco Camp.

20160326_104832

“Bahkan, kami punya lahan untuk berkemah, selain tempat bermalam bagi anak-anak peserta program di Eco Camp. Kami ada program berbayar, namun juga ada program tidak berbayar bagi para peserta,” ujar Ferry Sutrisna Widjaja, pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup saat berbincang dengan saya, di Bandung, Sabtu siang.

Menurut dia, kehadiran pihaknya untuk menanamkan juga kedisiplinan kepada anak-anak yang datang ke Eco Camp. Karena itu, setiap anak-anak, bahkan orang dewasa yang datang ke Eco Camp, wajib mencuci sendiri alat makan dan minum yang digunakan. Banyak program yang disajikan Eco Camp, namun pesertanya dibagi dalam empat jenjang. Untuk Jenjang Pratama rentang usia 5 – 9 tahun. Lalu, Jenjang Muda (10 – 12 tahun), Jenjang Madya (13 – 15 tahun), dan Jenjang Adi (14 – 18 tahun).

“Ada program tujuh hari dan ada juga program sehari,” katanya.

IMG-20160326-WA0011

Selengkapnya mengenai program tersebut dapat kita simak di website Yayasan, yakni http://www.ecolearningcamp.org/.

Pastinya, Eco Camp ditata dengan apik dan seramah mungkin dengan alam. Misalnya, kata Adi, pihaknya memanfaatkan teknologi surya untuk penggunaan listrik. Dan, memanfaatkan air limbah septic tank untuk menyiram tanaman yang ada di sekitar kawasan. “Tentu bukan tanaman yang untuk dikonsumsi, sedangkan teknologi surya juga dilengkapi dengan listrik PLN untuk berjaga-jaga,” papar Adi.

Penataan yang apik terasa mulai dari bentuk bangunan yang berarsitektur ramah lingkungan, serta asrinya tanaman nan hijau di kawasan. Terdapat tiga bangunan utama, salah satunya Pendo Martha Tilaar yang terletak di depan bangunan utama. Pondok yang terbuat dari bambu dan dilengkapi furnitur dari kayu itu terlihat asri dari luar. “Pendopo itu dimanfaatkan untuk tempat pertemuan juga. Dinamai Pendopo Martha Tilaar karena beliau yang mendonasi pembangunan Pendopo itu. Kami hadir dari donasi banyak orang yang peduli, termasuk tanah tempat kami berdiri ini adalah pinjaman selama 20 tahun,” papar Ferry.

Ditopang oleh sejuknya udara di sekitar serta alunan suara serangga yang disebut tongerek, membuat para pengunjung ke Eco Camp benar-benar serasa dekat dengan alam. Apalagi, kawasan ini bebas dari asap rokok. “Para pengunjung yang ingin datang, syaratnya minimal dua puluh orang,” papar perempuan pengelola yang melayani kami dengan ramah.

IMG-20160326-WA0016

Bagaimana harganya? “Relatif terjangkau kok, kami 20 orang membayar Rp 1 juta untuk layanan edukasi tentang alam, makanan ringan, dan makan siang,” kata Windu, salah seorang pengujung dari Bandung.

Mau menjajal? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 30 Maret 2016 09:46

    Info yang menarik…baru tahu ada obyek wisata ini di bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: