Skip to content

Mesti Sabar Menghadapi Bekitibolang

24 Maret 2016

rambu bekibolang1

SUASANA kawasan Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan padat merayap menjelang perempatan Kuningan. Antrean kendaraan bermotor mengular terutama di bawah fly over.

Kondisi lalu lintas jalan di perempatan menuju Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan itu kian padat pada petang hari. Apalagi saat hari kerja, Senin-Jumat kondisinya sangat padat. Maklum, area ini salah satu simpul masuk dan keluar kota Jakarta. Khususnya menuju satelit Jakarta, yakni Depok dan Bogor.

Petang itu laju sepeda motor saya merayap. Posisi saya hendak mengarah ke Kuningan. Artinya, dari arah Jl Gatot Subroto harus belok kiri di perempatan itu. Nah, disinilah drama itu bermula.
Saat hendak belok kiri ternyata tidak ada rambu ‘belok kiri langsung.’ Praktis para pengguna jalan harus mengikuti lampu pengatur lalu lintas jalan yang terpasang disitu, termasuk saya. Namun, tiba-tiba ada pengendara motor lain yang hendak belok kiri juga dan membunyikan klakson. Entah apa maksud pembunyian klakson itu. Saya menduga dia meminta jalan untuk belok kiri langsung.

Belum selesai, ada lagi mobil yang membunyikan klakson. Barangkali punya tujuan yang sama dengan pesepeda motor. Beruntung lampu pengatur lalin segera berwarna hijau sehingga tak perlu ada insiden adu mulut.

Pasalnya, saya bersama kolega pernah berhadapan dengan pengguna mobil di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Saat itu, kami berhenti karena tidak ada rambu belok kiri boleh langsung (bekitibolang). Kami menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Namun, mobil yang ada di belakang kami membunyikan klakson terus menerus. Ketika lampu berganti warna menjadi hijau, mobil tadi mendahului kami sambil mengacungkan jari tengah. Kolega saya terusik. Ada-ada saja.

Hal serupa terjadi ketika saya bersepeda motor di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Di pertigaan Cibubur yang bertemu dengan Jl Raya Bogor semula ada rambu ‘belok kiri langsung.’ Namun, rambu itu kemudian hilang. Praktis harus mengikuti lampu pengatur lalin yang ada disitu. Lagi-lagi, ketika saya berhenti mengikuti lampu, suara klakson dari pengendara motor maupun mobil bersahut-sahutan. Entah, apakah mereka tidak memahami aturan bekitibolang atau memang tidak peduli atas adanya aturan itu.

Oh ya, untuk menyegarkan ingatan kita, aturan soal bekitibolang tertuang di dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Khususnya di pasal 112 ayat (3) yang berbunyi pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.

Kami berkesimpulan, pengaturan belok kiri langsung atau tidak langsung salah satunya bertujuan melindungi pejalan kaki yang hendak menyeberang. Selain itu, tentu saja agar lalu lintas jalan menjadi tertib. Menurut Anda? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: