Skip to content

Pengalaman Menemui Mogok Massal Angkutan Umum

22 Maret 2016

mogok massal angkutan 2016

PAGI baru saja merangkak menuju siang. Isteri saya sudah bersiap-siap berangkat menuju rumah sakit di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur. Jarak dari rumah kami ke rumah sakit sekitar 10 kilometer (km).

Pilihan isteri saya untuk ke rumah sakit adalah menggunakan angkutan kota (angkot). Cukup membayar Rp 5.000 sudah sampai di tujuan, tentu ongkos itu untuk tarif sekali jalan. Namun, kali ini agak berbeda. “Nggak ada angkot, katanya pada demo,” ujar isteri saya yang Selasa, 22 Maret 2016 berniat menebus resep untuk obat anak kami.

Saya baru ingat bahwa akan ada mogok massal hari ini. Tempat tinggal kami termasuk yang amat terbantu oleh kehadiran angkot, yakni untuk menuju terminal Kampung Rambutan atau Pasar Rebo, Jakarta Timur atau hendak menuju Cililitan, Jakarta Timur. Berdasarkan informasi yang saya terima dua hari sebelumnya, Forum Komunikasi Masyarakat Penyelenggara Angkutan Umum (FK MPAU) akan berunjuk rasa ke Balai Kota DKI Jakarta, khususnya massa yang berasal dari wilayah Timur 1. FK-MPAU terdiri atas angkot KWK dan Mikrolet.

Oh ya, wilayah Timur 1 mencakup Taman Mini Square, Terminal Kp. Rambutan, dan Pasar Rebo. Dan, ironisnya itulah wilayah rute angkot yang melintasi rumah kami menuju rumah sakit di kawasan Pasar Kramat Jati.

Selain FK MPAU, mogok massal juga melibatkan Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) yang terdiri atas pengemudi taxi, angkutan bus kecil, dan Bajaj. Keduanya punya tuntutan yang sama, yakni permintaan pembekuan aplikasi angkutan ilegal pelat hitam Grab dan Uber.

“Ikut bareng ayah aja yah ke rumah sakitnya,” ujar isteri saya.

Jadilah kami berdua naik sepeda motor. Sepanjang perjalanan kami tidak menjumpai angkot KWK berwarna merah yang menuju ke Cililitan. Begitu juga dengan mikrolet rute Cibubur-Kampung Melayu. Praktis jalan raya agak terlihat tidak terlalu ramai. Biasanya, di kawasan pasar Kramat Jati terjadi penumpukan kendaraan.

Setelah menurunkan isteri saya di dekat rumah sakit, saya melanjutkan perjalanan menuju kantor. Pilihan rute yang saya pilih adalah Cililitan lalu ke Jl Dewi Sartika, Kampung Melayu, Ambasador, Kuningan, dan terkahir ke Jl Gatot Subroto. Jam sudah menunjukan sekitar pukul 11.30 WIB. Lagi-lagi, saya nyaris tak melihat angkot. Rupanya memang benar kabar bahwa akan ada mogok massal angkutan umum.

Setiba di kawasan Ambassador, Jakarta Selatan, saya sempat melihat mobil TNI yang mengangkut masyarakat. Tampaknya, mobil personel TNI diberbantukan untuk mengangkut penumpang yang terlantar.

Setiba di kantor saya menyaksikan berita di televisi yang mengabarkan anarkistisnya mogo massal. Maksudnya, terlihat adanya aksi pengrusakan mobil taksi hingga aksi kejar-kejaran antara pendemo dengan pihak lainnya. Bahkan, ada aksi tabrak dan main pukul. Jakarta mencekam. Siang itu hujan tiba-tiba turun dan membuat suasana menjadi adem.

Saya jadi kepikiran, bagaimana isteri saya pulang dari rumah sakit menuju rumah kalau angkot belum beroperasi? Akh, semoga mereka sudah selesai mogoknya dan kembali beroperasi. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 22 Maret 2016 20:44

    A: Apa sikap OBI dengan fenomena angkot mogok?
    B: Mungkin mereka kebanyakan ngopi, ngumpul bareng ngopi Bagong di Balai Kota
    😀

    Isteri udah ditelpon belum Eyang?

  2. lina tarigan permalink
    23 Maret 2016 19:56

    menyusahkan orang yang mau kerja kalau mogok siangan aja jangan pagi pagi,begitu kan masih bisa di bicarakan ini namanya menyusahkan orang banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: