Skip to content

Berbagi Ruang Mobil Yukkk

17 Maret 2016

lalin jakarta gatsu

DI Jakarta dan sekitarnya ada sekitar 4,5 juta mobil. Dari jumlah tersebut tentu saja termasuk mobil penumpang, yakni mobil angkutan orang. Pertanyaannya, seberapa besar daya angkut mobil itu dalam mengakomodasi pergerakan orang? Atau, seberapa efektif mobil itu mengangkut pergerakan orang?

Ya. Berbagi ruang mobil bukan isu baru di belahan dunia. Doktor Bambang Susantono dalam bukunya, ‘Revolusi Transportasi’ menyebutkan, sejak pertamakali diperkenalkan di Amsterdam, Belanda pada 1970-an, gagasan berbagi ruang mobil (car sharing) kemudian meluas ke berbagai negara. Contohnya, di Swiss pada 1987, Jerman (1988), Kanada (1994), Amerika Utara (1998), dan Inggris (2000).

Belakangan, di Indonesia juga meruyak komunitas berbagi ruang mobil, yakni Nebengers pada 7 Desember 2011. Kolega saya, Andreas Swasti bersama Putri Sentanu memperluas Nebengers lewat akun twitter. Bahkan, kini lewat aplikasi di ponsel anggotanya sudah lebih dari 10 ribu orang.

Oh ya, saya sempat icip-icip Nebengers ketika hendak menuju museum di daerah Kota, Jakarta Barat. Saat itu, saya memasang status di twitter untuk mencari tebengan dari kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Dan, karena sedang beruntung saya pun mendapat tumpangan mobil bro Arief. Jadilah kami berbagi ruang mobil. Saya kebagian membayar tarif tol nya. Sungguh pengalaman yang mengasyikan.

Terbayang bagaimana jalan-jalan Jakarta akan kian terkurangi kepadatannya bila mobil yang wira-wiri pemanfaatan ruangnya dimaksimal. Dalam pengalaman saya nebeng mobil beberapa waktu lalu, kami ada empat orang satu mobil. Dengan asumsi satu orang bawa mobil akan ada empat mobil yang turun ke jalan, namun berkat konsep nebeng tadi, cukup satu mobil yang turun ke jalan. Satu mobil tadi bisa mengakomodasi kebutuhan empat orang. Lumayan kan, memangkas tiga mobil sehingga tidak ikut menyesaki jalan raya. Belum lagi memangkas buangan gas emisi buang dari pembakaran bahan bakar minyak (BBM).

Bagaimana jika berbagi ruang dengan menerapkan pola semi komersial? Misal, satu mobil digunakan empat orang, tapi sang penumpang membayar sejumlah uang yang jauh dari tarif ongkos angkutan umum. Jangan-jangan, konsep ini mampu mereduksi besar-besaran jumlah mobil yang beredar di jalan raya kita. Maklum, di Jakarta setiap harinya ada sekitar 20 juta pergerakan orang.

Oh ya, konsep seperti diperkenalkan di Quebec, Kanada pada 1994. Kini, setidaknya terdapat 101 ribu anggota dengan jumlah mobil bersama sebanyak 3.000 unit. Mereka tergabung dari 25 organisasi berbagi ruang mobil di seluruh penjuru Kanada.

Hal serupa juga mencuat di Inggris pada 2000 dengan nama komunitas Card Plus. Anggota komunitas ini mencapai sekitar 16 ribu anggota aktif. Jumlah mobil yang tergabung sekitar 3.000 dari berbagai belahan Inggris, Skotlandia, dan Wales.

Nyaris seluruh aktifitas komunitas berbagi ruang mobil itu memanfaatkan teknologi informasi, khususnya aplikasi di ponsel. Perkembangan teknologi tak bisa dibendung. Konvergensi transportasi dengan teknologi informasi menjadi sebuah keniscayaan. Namun, kata Bambang Susantono, komunitas berbagi ruang mobil mencerminkan karakter kegotong-royongan bangsa Indonesia. Dengan komunitas, transportasi masa depan tidak hanya mengandalkan teknologi atau persamaan kepentingan, namun juga kepedulian.

“Inilah bekal transportasi masa depan yang canggih dan humanis,” kata pria yang kini menjabat Vice President Asin Development Bank (ADB) itu. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. gilaroda2ga permalink
    17 Maret 2016 19:02

    Mantab! Btw br twitter aja ato sdh ada appsnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: