Skip to content

Tolak Macet dengan Cara Ini

16 Maret 2016

tolak macet_poster 46

SARAPAN pagi warga kota Jakarta bukan lagi sekadar roti atau nasi. Kini, mereka harus sudi mengunyah kemacetan lalu lintas yang kian hari makin merajalela.

Masuk akal kemacetan muncul dimana-mana karena jumlah penduduk terus bertambah. Setidaknya nyaris 10 juta jiwa yang kini menghuni Jakarta. Bahkan, saat pagi hingga petang hari jumlahnya bisa bertambah lebih dari satu juta jiwa. Mereka berdatangan dari kota penyangga, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Lazimnya ibu kota, Jakarta juga menjadi pusat kegiatan ekonomi dan bisnis. Roda usaha berputar dan daya beli tergolong moncer. Hal itu salah satunya tercermin dari kepemilikan kendaraan bermotor.

Tahun 2015, setidaknya terdapat sekitar 18 juta kendaraan bermotor di wilayah Polda Metro Jaya yang menaungi Jakarta. Lebih dari separuh kendaraan tadi adalah sepeda motor.

Di sisi lain, pertambahan jumlah panjang jalan aman lamban. Jauh di bawah pertumbuhan kendaraan yang bisa mencapai 10% per tahun. Sedangkan pertumbuhan jalan tak lebih dari 0,1% per tahun.

Mudah ditebak bahwa kemacetan lalu lintas dengan mudah terjadi dimana-mana. Apalagi setidaknya ada 20 juta pergerakan orang per hari di Jakarta. Klop lah sudah ramuan untuk memunculkan kemacetan. Bagaimana solusinya?

Komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) menyodorkan ajakan menggunakan transportasi publik sebagai pengurai kemacetan. Mobilitas warga yang kini mayoritas memanfaatkan kendaraan pribadi digeser ke angkutan umum massal.

Ajakan Kopcau dituangkan ke dalam poster digital bertajuk ‘Tolak Macet.’ Poster ke-46 Kopcau itu mencerminkan kegelisahan publik atas kemacetan di Jakarta. Sekaligus harapan agar pemerintah daerah mewujudkan angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan.

Lantas, bagaimana kondisi angkutan jalan saat ini?

Ternyata, di Jakarta saat ini baru ada 107 ribu angkutan. Mereka terhimpun di dalam Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta. Jumlah tersebut terdiri atas angkutan barang dan orang. Termasuk sekitar 23 ribu taksi dan 17 ribu bajaj.

Oh ya, Kopdar Pengicau didirikan di Jakarta pada 23 Desember 2012. Awalnya, komunitas ini beranggotakan para admin twitter dari komunitas atau klub sepeda motor di Jabodetabek. Kini, setiap individu bisa menjadi anggota komunitas itu asal memiliki kepedulian pada masalah keselamatan jalan.

Dalam kopdar yang digelar dua minggu sekali pada Jumat malam, Kopdar Pengicau menelorkan satu poster digital yang berisi pesan kampanye keselamatan jalan. Poster digital itu disebar lewat akun twitter @kopdarpengicau dan akun para anggotanya. Selain itu, disebar juga lewat media sosial lainnya seperti facebook, path, dan makro blogging hingga media massa konvensional. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 16 Maret 2016 11:20

    Angkutan umum massal itu adalah wujud nyata “layanan publik” sebuah pemerintah kota kepada warganya.
    Mindset ini yang belum bisa (atau mungkin sangat sulit?) diterapkan oleh para gubernur/walikota/bupati di Indonesia.
    HIngga suatu saat saya berpikiran buruk bahwa kebijakan terkait angkutan umum massal ini selalu kalah oleh kepentingan korporasi asing (baca: kapitalis otomotif)

    • 16 Maret 2016 11:26

      cadassss

Trackbacks

  1. Tolak Macet dengan Cara Ini | Suetoclub's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: