Skip to content

Kecelakaan Anak-anak dan Sistem TAEW

15 Maret 2016

gbd anak anak1

TAHUKAH kita bahwa sepanjang lima tahun terakhir, yakni 2010-2015, setiap hari rata-rata ada 13 anak menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia?

Di sisi lain, pada periode yang sama, setiap hari ada 86 anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan. Mereka ada yang menderita luka ringan, luka berat, dan meninggal dunia.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menekan fatalitas pada anak-anak kita?
Menanamkan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat perlu sejak usia dini. Merekalah generasi penerus kehidupan bangsa kita. Selain edukasi, anak-anak di bawah umur juga butuh figur teladan, khususnya dari orang terdekat di lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua mutlak untuk mampu memberi edukasi dan contoh yang baik tentang pentingnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

Ironisnya, kata Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, partisipasi masyarakat (termasuk orang tua), masih bervariasi. Bahkan, cenderung permisif. “Kurang mempertimbangkan dinamika kejadian-kejadian aktual yang berisiko tinggi terutama kejadian kecelakaan lalu lintas,” kata dia, dalam pesan tertulisnya kepada saya di Jakarta, baru-baru ini.

Dia patut berpendapat demikian mengingat kasus kecelakaan yang melibatkan anak di bawah umur di wilayah hukumnya terjadi tren peningkatan.

Budiyanto menjelaskan, kecelakaan yang melibatkan anak di bawah umur melonjak 58,5% pada 2015 dibandingkan setahun sebelumnya. Bila pada 2014 dua hari sekali terjadi kecelakaan anak di bawah umur, pada 2015 melonjak menjadi setiap hari rata-rata terjadi satu kasus.

Lalu, korban luka berat melonjak 71% dan korban luka ringan meningkat 49%. Pada 2015, setiap empat hari ada satu korban luka berat dan setiap tiga hari ada satu anak menderita luka ringan akibat kecelakaan.

“Bahkan, pelanggaran yang melibatkan anak di bawah umur melonjak 92,32% pada 2015,” kata dia.

Tahun 2015, setiap hari ada sekitar 51 kasus pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Padahal, setahun sebelumnya sekitar 27 kasus.

Dari sudut pandang Budiyanto, fakta-fakta itu memperlihatkan bahwa sistem Traffic Accident Early Warning (TAEW) belum terbangun dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Dan, termasuk di kalangan para pemangku kepentingan yang bertanggung jawab terhadap masalah lalu lintas dan angkutan jalan.

TAEW merupakan sistem peringatan dini terhadap risiko dan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas.Kondisi dimana status tingkat kecelakaan dan fatalitasnya berada pada wilayah kritis, yakni diambang bahaya.

“Tidak jauh berbeda dengan berbagai bentuk sistem pencegahan dini yang lain, sistem ini juga memiliki tujuan khusus menginformasikan adanya ancaman atau bahaya,” jelas Budiyanto.

Artinya? Seluruh para pemangku kepentingan keselamatan jalan mesti aktif melindungi anak-anak dari ancaman petaka di jalan raya. Tentu sesuai tugas dan fungsi pokok masing-masing. Dan, yang tidak kalah penting adalah perang para orang tua untuk mampu mengedukasi anak-anaknya untuk berperilaku aman dan selamat, bukan sebaliknya. (edo rusyanto)

foto:Gerakan Bandung Disiplin (GBD)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: