Skip to content

Pesepeda Motor Ini Pilih DRL Ketimbang AHO

10 Maret 2016

drl motor di puncak

TERNYATA masih ada pesepeda motor yang lebih memilih DRL ketimbang AHO pada 2016 ini. Alasannya beragam, tapi kalau dikerucutkan hampir senada, yakni merepotkan. Loh kok bisa?

Sebelum lebih jauh, yang dimaksud DRL adalah daytime running lights alias lampu utama pesepeda motor menyala setiap wira-wiri di jalan. Maksudnya, pesepeda motor akan menyalakan lampu utamanya ketika berkendara.

Sedangkan, AHO adalah kependekan dari automatic headlamp on yang bermakna, lampu utama sepeda motor menyala secara otomatis ketika mesin motor dihidupkan.

Dapat disimpulkan bahwa DRL berlandaskan pada perilaku atau habit sang pesepeda motor, sedangkan AHO habit dipaksa oleh infrastruktur kendaraan. Tidak ada yang keliru, karena keduanya bermuara pada hal yang sama, yakni menerapkan konsep terlihat dan melihat. Kedua hal itu adalah prinsip dasar dari keselamatan di jalan (road safety).

Nah, suatu ketika saya bertemu seorang pesepeda motor yang memodifikasi tunggangannya dari semula AHO menjadi non-AHO. Dia mengeluarkan uang sekitar Rp 120 ribu untuk memodifikasi sistem lampu utama motor yang dari pabriknya sudah dirancang AHO. “Pasalnya, kalau AHO itu merepotkan kalau berkendara masuk ke tempat tertentu yang bisa mengganggu orang sekitar,” ujar pesepeda motor muda itu, di Jakarta, suatu ketika.

Dia menambahkan, dirinya lebih menyukai prinsip DRL yang berbasis pada habit atau kebiasaan ketimbang dipaksa oleh infrastruktur kendaraan.

Perilaku yang menjadi kebiasaan umumnya lahir dari tindakan atau perbuatan yang berulang-ulang. Terkait prinsip dasar road safety bagi pesepeda motor, yakni terlihat dan melihat, menyalakan lampu utama setiap berkendara adalah habit positif. Ukuran sepeda motor yang lebih kecil lebih ringkih untuk terjebak insiden maupun kecelakaan. Kampu utama yang menyala membuat kehadiran sepeda motor dapat lebih cepat diketahui oleh pengguna jalan lainnya. Rambatan cahaya yang lebih cepat dibandingkan rambatan suara, membantu pengemudi mobil lebih cepat mengetahui kehadiran pesepeda motor.

Semoga kita terus bisa membangun habit berkendara maupun berlalulintas jalan yang aman dan selamat. Lewat habit yang seperti itu diharapkan mampu menekan fatalitas kecelakaan lalu lintas. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 10 Maret 2016 15:54

    Kalau jaman dulu lampu nyala di siang hari malah di tilang alasan membahayakan, eh….. sekarang lain ceritanya katanya sih buat keselamatan, padahal keselamatan pengendara itu tergantung ridernya saja

    • 10 Maret 2016 17:19

      zaman terus berubah yah? 🙂

  2. 10 Maret 2016 18:07

    Iya eyang 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: