Skip to content

Pesepeda Motor Itu Kelompok yang Rendah Hati

9 Maret 2016

parkir wtc masuk

PESEPEDA motor di Indonesia itu rendah hati. Coba saja lihat di sekeliling kita.

Ketika jalan tol hanya dikhususkan bagi kendaraan roda empat atau lebih, para penunggang kuda besi tenang-tenang saja. Tidak ngotot hingga harus menutup jalan tol dengan memarkirkan tunggangannya di tengah jalan tol. Mereka menyadari bahwa jalan alternatif itu memang untuk para pemilik kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi.

Belakangan memang ada sejumlah jembatan tol yang mengizinkan sepeda motor melintas. Misalnya, di Surabaya ke Madura dan di Bali. Merespons kebijakan itu lagi-lagi para penunggang roda dua biasa-biasa saja, bisa menerima.

Saat lokasi parkirnya dibedakan juga tidak cerewet memprotes. Misal, gedung perkantoran atau hotel menempatkan lokasi parkir sepeda motor lebih jauh dibandingkan tempat parkir untuk mobil. Para pesepeda motor dapat menerima, sekalipun harus berjalan kaki dan berkeringat untuk tiba di lokasi tersebut.

Begitu juga ketika sejumlah gedung komersial maupun pusat perbelanjaan yang tidak mengizinkan sepeda motor masuk lewat pintu depan. Si kecil ini lagi-lagi bisa memaklumi. Tidak lantas harus protes dengan mengekspresikan diri sambl mencaci-maki.

Masih terkait soal tempat parkir, sesama pesepeda motor pun saling memaklumi. Di sejumlah gedung pusat perbelanjaan modern, untuk parkir sepeda motor berkubikasi besar, yakni di atas 250cc bisa parkir nyaman di bagian depan bangunan. Para pesepeda motor bermesin kecil santai-santai saja parkir menjauh di lokasi yang disediakan pengelola gedung.

Bahkan, ketika pesepeda motor dibatasi tidak boleh melintas di jalur protokol tertentu di Jakarta, lagi-lagi para penunggang kuda besi manut saja. Walau ada sejumlah respons yang menolak, akhirnya semua berlaku begitu saja.

Saya berkesimpulan, pesepeda motor itu memang kelompok yang rendah hati. Bisa memaklumi dan memandang semua itu ada porsinya, terlebih di jalan raya.

Nah, ketika kemudian ada pesepeda motor menjarah hak pejalan kaki, seperti melintas di trotoar dan merangsek di marka jalan berupa zebra cross, jangan-jangan mereka adalah kelompok yang lupa diri. Alpa akan adanya hak dan kewajiban yang dibuat demi kenyamanan, keamanan, dan keselamatan sesama pengguna jalan.

Lupa diri kadang-kadang sampai terlihat seperti tidak takut mati. Lihat saja manakala ada pesepeda motor nerobos lampu merah, melawan arus, hingga nekat ngebut tanpa memakai helm pelindung kepala.

Lazimnya orang lupa, mestinya bisa diingatkan. Diajak untuk kembali memahami tentang masing-masing ada porsinya di jalan raya. Hak dan kewajiban menjadi panduan untuk lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Untuk urusan mengingatkan, bisa dilakukan oleh siapa saja. Orang-orang di sekitarnya, teman, sahabat, keluarga hingga para pemangku kepentingan keselamatan jalan. Tentu, kita tak ingin harus diingatkan lewat cara yang membuat bulu roma bergidik. Jangan lupa, lebih dari separuh kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor.

Kata kunci untuk berubah memang ada di dalam diri seseorang. Bukan datang dari luar. Kesadaran dari dalam diri menjadi faktor kuat untuk kembali sebagai sosok yang rendah hati.

Salam dari kelompok yang ingin selalu rendah hati di jalan raya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: