Skip to content

Balada Para Pembonceng Motor

6 Maret 2016

helm spanduk imbauan

DI jalan raya kerap saya melihat para penumpang sepeda motor atau akrab disebut pembonceng yang tidak memakai helm. Dari mereka yang tidak memakai helm itu ada yang kepalanya ditutupi topi, kupluk jaket, hingga selendang.

Terpaksa, jarak dekat, tidak punya helm, dan tidak ada yang menilang merupakan empat jawaban yang sering saya dengar ketika bertanya kenapa tidak memakai helm sang dibonceng motor. Di balik sejumlah alasan yang mencuat menyiratkan pesan bahwa kesadaran melindungi kepala saat bersepeda motor masih rendah.

1). Terpaksa

Terpaksa adalah paling sering muncul. Alasan ini bisa datang dari pembonceng atau sang pengendara, bahkan dari keduanya. Namun, jangan-jangan alasan ini lebih tepat menjadi memaksakan diri ketimbang terpaksa.

2). Jarak Dekat

Tak ada defenisi yang tepat soal jarak dekat. Kalau dari pemandangan sehari-hari, bisa berkisar kurang dari satu kilometer. Herannya, apakah alasan ini bermakna bahwa kerasnya aspal jalan jarak dekat dan jarak jauh itu berbeda-beda yah? Atau, kecelakaan terjadi hanya untuk perjalanan jarak jauh?

3). Tidak Punya Helm

Pembonceng tipe ini kerap adalah mereka yang memang tidak ada niatan untuk membonceng, namun karena ada kesempatan jadilah pembonceng. Tentu amat masuk akal saat itu yang bersangkutan tidak membawa helm.

4). Tidak Ditilang

Alasan yang satu ini benar-benar menyiratkan bahwa memakai helm pelindung kepala bukan demi keselamatan, melainkan sekadar menghindari risiko hukum, yakni ditilang polantas.

Sekadar menyegarkan ingatan kita tentang pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa di negara-negara tertinggal dan berkembang, cedera kepala diperkirakan berkontribusi sekitar 88% terhadap kematian pesepeda motor. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Eropa yang diperkirakan sekitar 75%.
WHO juga bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Dan, regulasi yang berlaku di negara kita, yakni Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara dan penumpang memakai helm. Aturan itu menyebutkan bahwa helm yang dipakai wajib memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI).

Aturan tersebut menegaskan bahwa pengendara yang membawa penumpang alias pembonceng tanpa helm bakal dikenai sanksi. Ada dua pilihan, yakni sanksi denda maksimal Rp 250 ribu. Atau, pidana kurungan penjara maksimal satu bulan.

Apakah kesadaran tentang pentingnya memakai helm pelindung kepala benar-benar masih rendah? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: