Skip to content

Dilema Kita, Dilema Anak-anak Kita

1 Maret 2016

izin berkendara2

SAAT membaca tautan sebuah status di jejaring facebook tentang anak di bawah umur yang bersepeda motor hal yang kepikiran adalah soal dilema. Bagaimana tidak, ternyata sang anak diminta ibunya membeli sesuatu, lalu naik motor dan tidak pakai helm. Sang anak berusia 9 tahun. Dilematis.

Tak heran jika polantas lalu mengembalikan sang anak ke orang tuanya. Lalu, sang orang tua diminta tidak lagi mengizinkan anak di bawah umur untuk mengendarai kuda besi. Tentu dalihnya demi keselamatan sang anak dan pengguna jalan lainnya. Belum lagi, anak-anak tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) karena belum cukup umur, yakni belum mencapai usia 17 tahun.

Dilema muncul saat para orang tua permisif. Dalih adanya kebutuhan mobilitas dan moda angkutan yang ada belum memadai kerap menjadi pemicu lahirnya dilema tadi. Mengizinkan anak-anak di bawah umur untuk berkendara di jalan.

Ironisnya, keselamatan dan keamanan sang anak menjadi dipertaruhkan. Pernah kolega saya kena pil pahit manakala sepeda motornya raib digondol penjahat saat dikendarai anaknya yang di bawah umur. Status motor yang masih kreditan tidak bisa diklaim asuransinya lantaran sang pengendara dianggap melanggar hukum karena tidak memiliki SIM. Pahit memang.

Banyak lagi kisah pahit anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku dan korban kecelakaan. Coba saja kita simak data Ditlantas Polda Metro Jaya berikut ini.

Pada 2014, menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya jumlah anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan melonjak 11,11%. Tahun itu, setiap lima hari ada satu anak di bawah umur yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan.
Bagaimana di Indonesia?

Sepanjang lima tahun terakhir, 2010-2015, setiap hari rata-rata belasan anak menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan. Di sisi lain, pada periode yang sama, setiap hari ada 80-an anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan. Mereka ada yang menderita luka ringan, luka berat, dan meninggal dunia.

Upaya proteksi orang tua terhadap anak-anak menjadi vital. Sedangkan di sisi lain, langkah pemerintah dalam menyediakan transportasi jalan yang memadai menjadi sebuah keharusan. Ketersediaan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan menjadi mutlak. Lewat angkutan umum yang seperti itu diharapkan hak dasar warga negara untuk bermobilisasi dapat terpenuhi. Jangan biarkan warga mencari sendiri solusi untuk hak dasarnya tersebut.

Negara harus hadir melindungi warganya dari ancaman keselamatan berlalulintas jalan. Salah satu fitur utama adalah ketersediaan infrastruktur dan suprastrukturnya. Tentu, penegakan hukum menjadi pilar penting juga dalam rangka melindungi keselamatan para pengguna jalan. Pada satu titik, itulah harapan kita, yakni mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: