Skip to content

Waspada Tujuh Detik di Persimpangan Jalan

28 Februari 2016

lamer waktu1

ADA-ADA saja ulah pengguna jalan di Jakarta. Keengganan antre diganti dengan ulah nekat menerobos lampu merah.

Rasa tidak sabar kerap terlihat saat menanti pergantian warna dari merah ke hijau. Artinya, dari perintah berhenti (merah) berganti menjadi perintah untuk jalan (hijau).

Atau, nah ini dia, saat lampu baru saja berganti dari kuning ke merah, sang pengendara bablas terus. Padahal, sepatutnya dia herhenti.

Ironisnya, aksi terabas terobos itu bisa memicu terjadinya insiden. Setidaknya membuat pengguna jalan yang berada pada posisi yang benar menjadi sewot. Untuk soal yang satu ini, yang sering terlihat adalah raungan suara klakson atau knalpot yang digeber-geber sebagai simbol kemarahan.
Lantas, tahukah Anda berapa selisih waktu pergantian warna di persimpangan jalan?

Saya juga baru tahu persis, walau barangkali ini hanya pada satu titik persimpangan saja, yakni ketika pada suatu siang di jalan pinggiran kota Jakarta. Saat itu saya sempat melihat bagaimana nyaris terjadi sebuah insiden lantaran aksi menerobos lampu merah. Pengendara yang seharusnya berhenti justeru tidak sabar dan tancap gas. Sedangkan pengendara yang memang dalam posisi menerima perintah jalan karena lampu hijau, nyaris saja berbenturan.

Ternyata, selisih waktu pergantian warna lampu pengatur lalu lintas di titik itu sekitar tujuh detik. Waktu itu, posisi saya berjalan lurus. Lampu berwarna merah dan kami sejumlah pengguna jalan berhenti. Sedangkan dari arah kanan kami lampu berwarna hijau, praktis kendaraan melaju. Insiden nyaris terjadi lantaran dari arah kami ada pesepeda motor yang melaju sebelum lampu berwarna hijau. Miris.

Pertanyaannya, kenapa menunggu tujuh detik saja tidak sabar demi keselamatan jalan? Kenapa sampai segitu beraninya mempertaruhkan keselamatan hanya demi beberapa detik saja?

Tampaknya, kewaspadaan kita di persimpangan jalan mesti terus dijaga. Jika perlu, kewaspadaan digandakan mengingat masih saja ada pengguna jalan yang tidak sabar, sekalipun hanya menunggu tujuh detik. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: