Skip to content

Misteri Penurunan Sanksi Helm

27 Februari 2016

helm kartun michelin

PARA penunggang sepeda motor di Indonesia wajib memakai helm pelindung kepala. Entah dia selaku pengendara maupun sebagai penumpang. Bahkan, kualitas helm yang dipakai diwajibkan sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI).

Kewajiban itu merupakan amanat dari Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU yang lahir di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu cukup berbeda dibandingkan dengan aturan sebelumnya.

Oh ya, sebelum lebih jauh soal perbedaannya, aturan yang baru berlaku sekitar tujuh tahun ini juga dibarengi dengan ancaman sanksi. Penunggang sepeda motor yang melanggar aturan itu bakal disemprit dengan sanksi denda maksimal Rp 250 ribu. Atau, pidana kurungan penjara maksimal satu bulan.

Sekalipun ada sanksi, implementasinya tidak semulus aturannya. Bahkan, kesadaran menggunakan helm saat bersepeda motor juga belum sepenuhnya mulus. Masih banyak kita jumpai yang mengabaikan helm.
Padahal, kata Badan Kesehatan Dunia (WHO) di negara-negara tertinggal dan berkembang, cedera kepala diperkirakan berkontribusi sekitar 88% terhadap kematian pesepeda motor. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Eropa yang diperkirakan sekitar 75%.

WHO juga bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Dari pengamatan sehari-hari, setidaknya ada enam alasan kenapa tidak memakai helm saat bersepeda motor. Pertama, alasan jarak dekat. Sepintas alasan ini tipis sekali dengan menganggap tak berisiko tak memakai helm. Ada anggapan bersepeda motor di sekitar tempat tinggal tidak berisiko. Jarak dekat diasumsikan tidak berbahaya karena medannya sudah dikenal. Atau, dianggap tidak banyak kendaraan lain.

Kedua, malas. Rasa malas memang abstrak latar belakangnya. Bisa banyak alasannya.
Ketiga, repot. Merasa repot kalau memakai helm untuk jarak pendek. Misal, karena memakai pakaian daerah. Repot saat harus menenteng-nenteng helm.

Keempat, panas. Merasa gerah atau kepanasan. Agak aneh memang, gak rela kegerahaan, tapi ‘siap’ menghadapi fatalitas saat terjebak insiden atau kecelakaan jalan.
Kelima, tidak punya. Mungkin belum sempat beli helm. Mestinya bisa beli helm, maklum harga sepeda motor jauh lebih mahal ketimbang harga satu helm.

Keenam, tidak ditilang. Alasan tidak ada yang bakal menilang banyak dijumpai karena kepatuhan baru muncul saat ada petugas.

Ok, sekarang kita kembali ke judul tulisan ini, yaitu misteri penurunan sanksi tidak memakai helm. UU No 14 tahun 1992 tentang LLAJ yang diteken oleh Presiden Soeharto mewajibkan pengendara dan penumpang sepeda motor memakai helm. Aturan itu memberi ancaman sanksi pidana penjara maksimal satu bulan atau denda maksimal Rp 1 juta.

Setelah 17 tahun berlaku, UU tersebut digantikan oleh UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ. Aturan ini memiliki dua perbedaan utama dibandingkan dengan aturan sebelumnya. Pertama, kualitas helm yang wajib dipakai harus sesuai dengan SNI. Kedua, sanksi denda turun menjadi Rp 250 ribu. Pertanyaannya, kenapa sanksi dendanya turun?

Jawaban atas pertanyaan itu hingga kini masih misteri, setidaknya untuk saya. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. benny permalink
    27 Februari 2016 13:41

    Ooo..itu karena dalam periode 1992-2009 kualitas isi kepala orang Indonesia mengalami depresiasi.

    • 27 Februari 2016 13:47

      ooohh gitu toh…?

    • 27 Februari 2016 14:19

      haha, bener nih 😀

      http://jomblogger.net/2016/02/27/inilah-sisi-baik-dan-buruk-dalam-kesendirian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: