Skip to content

Pemuda Jakarta Ini Memaafkan Penabraknya

25 Februari 2016

lalin jakarta gatsu

MEMAAFKAN adalah perilaku mulia. Ketika seorang pemuda sepeda motornya dihajar orang lain, lalu dia mampu memaafkan sang penabrak, inilah sisi humanisnya jalan raya kita.

Peristiwa siang itu nyaris tak pernah diduga oleh Badi, kita sapa saja demikian. Sepeda motornya melaju di tengah keramaian salah satu sudut jalan kota Jakarta. “Siang itu saya hendak menuju kantor,” tutur dia, suatu senja di Jakarta, belum lama ini.

Di benak Badi hanya ingin tiba tepat waktu dan menyelesaikan tugas-tugas kantor. Lalu lintas jalan yang ramai lancar siang itu dia lewati seperti hari-hari sebelumnya. Namun, kata dia, perbedaan siang itu adalah ketika dia harus ketemu dengan insiden yang bagi kebanyakan orang patut untuk dihindari, yakni kecelakaan lalu lintas jalan.

“Saat saya hendak belok ke kiri, tiba-tiba ada pesepeda motor lain yang menabrak saya dari samping,” tutur dia.

Jadilah siang itu berisi cerita duka, kecelakaan tabrak samping. Sang penabrak terluka di bagian kaki selain spakbor dan shochbreaker nya rusak. Sedangkan Badi, menderita kerusakan dibagian knalpot. “Penabrak saya masih muda. Dia berada di sisi kiri dan pandangannya terhalang oleh mobil yang ada di belakang saya,” ujar pemuda lajang itu.

Badi memilih memaafkan sang penabraknya. Dia mengingatkan sang penabrak agar lebih waspada mengingat jalan raya Jakarta punya catatan kelam soal urusan kecelakaan.

Jakarta yang berusia 467 tahun menampung banyak perilaku para pengguna jalan. Setiap hari, rata-rata tercatat 18 kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Petaka itu setiap hari merenggut sekitar dua jiwa. Banyak dari kasus kecelakaan di Jakarta berujung pada kerusakan barang dan korban cedera.

Lebih dari separuh kendaraan yang terlibat kecelakaan di Jakarta adalah sepeda motor. Sepeda motor yang terlibat kecelakaan ada yang sebagai korban dan tentu saja ada yang menjadi pelaku kecelakaan.

Ironisnya, kecelakaan yang terjadi dominan dipicu oleh perilaku ugal-ugalan di jalan. Artinya, perilaku melanggar aturan yang berlaku seperti soal batas kecepatan maksimal hingga pelanggaran terhadap rambu dan marka jalan.

Dalam menekan perilaku tidak tertib fakta juga memperlihatkan bahwa setiap ada operasi razia jumlah pelanggaran menurun. Artinya, bila pelanggaran dapat ditekan bkan mustahil celah terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan juga bisa merosot. Namun, penegakan hukum di jalan raya masih jauh dari harapan masyarakat. “Penegakan hukum belum maksimal,” tegas AKBP Budiyanto, kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, di Jakarta, baru-baru ini.

Tapi, kata dia, di bagian lain kesadaran masyarakat pengguna jalan relatif masih rendah. Dia mencontohkan, pada saat dihadapkan pada situasi macet, saling serobot, dan melawan arus. Akibatnya, jumlah pelanggaran dan kecelakaaan relatif tinggi. “Tahun 2015, jumlah kendaraan yang terlibat pelanggaran naik 19%,” kata dia. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: