Skip to content

Dua ‘Adu Nyali’ di Jalan Raya Jakarta

23 Februari 2016

SUATU siang di sudut jalan kota Jakarta tampak dua pesepeda motor berhadap-hadapan. Satu pesepeda motor terletak di posisi yang sebenarnya. Satu lagi dalam posisi melawan arus lalu lintas.

Dampak dari berhadap-hadapannya mereka membuat arus di belakangnya melambat. Terlihat antrean kendaraan bermotor yang di dalamnya ada saya. Jl TB Simatupang di dekat Rancho menuju fly over di depan gedung Antam pun padat merayap Senin, 22 Februari 2016 siang.

Ketika mendekat ke posisi mereka tampaklah wajah kedua pesepeda motor itu. Sang pelawan arus seorang perempuan yang saya taksir berusia di kisaran 30 tahunan. Satunya lagi adalah pesepeda motor pria.

"Minta maaf pak," terdengar sayup-sayup suara sang perempuan tadi.

"Ibu harus putar balik," sepintas saya dengar jawaban sang pria yang memakai rompi bertuliskan ‘polisi.’

Melawan arus butuh nyali besar mengingat risikonya cukup besar. Amat mungkin terjadi tabrakan depan-depan. Atau, gesekan dengan sesama pengguna jalan yang merasa terampas haknya.

Kuda besi saya pun terus berlalu. Entah apa lanjutan dari adegan lawan arus itu. Memasuki Jl Buncit Raya yang sedikit tersendat muncul adegan lain yang butuh nyali besar. Sebuah mobil dengan kecepatan di atas rata-rata merangsek jalur Trans Jakarta.

Mobil merek Jepang itu melaju seperti tergesa-gesa di busway. Mobil itu meliuk-liuk di jalan yang memang sedikit berbelok-belok dan turun naik karena permukaan tanah sedikit rendah dan sedikit tinggi.

Adegan melawan arus dan masuk jalur Trans Jakarta butuh nyali besar. Maklum, selain berisiko besar memicu terjadinya kecelakaan, kedua pelanggaran itu merampas hak orang lain. Tindakan mengambil hak orang lain butuh nyali besar. Bagaimana tidak, ketika yang merasa haknya dirampas melakukan perlawanan bukan tidak mungkin terjadi gesekan serius.

Di sisi lain, nyali besar juga dibutuhkan mengingat pelanggaran itu diancam sanksi penjara maksimal dua bulan atau denda maksimal Rp 500 ribu.

Para pemilik nyali besar gemar berunjuk kekuatan di jalan raya. Ironisnya, aksi itu tak jarang menempatkan hak pengguna jalan yang lain diurutan nomor buncit.

Aksi ‘uji nyali’ juga menempatkan aturan di jalan sebagai hiasan dengan jargon peraturan dibuat untuk dilanggar. Kalau ditelisik lebih jauh aksi-aksi itu bermuara pada kepentingan individu lewat perilaku jalan pintas. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: