Skip to content

Beringasnya Jalan Raya Kita

18 Februari 2016

koboi jalanan vivacoid 2010

LIMA tahun lalu saya pernah membaca sebuah judul berita menggegerkan di media online. Berita berjudul ‘Pengendara Motor Tembak Sopir Metro Mini’ itu menjadi perbincangan yang cukup ramai tahun itu. Kini, setelah lima tahun ternyata jalan raya kita masih menyimpan cerita yang sama.

Jalan raya kita seperti sumbu pendek. Disulut sedikit saja, meledaklah dia.

Pengguna jalan yang emosional begitu mudah kita jumpai. Entah lantaran sesaknya emosi di dada karena menghadapi kemacetan lalu lintas jalan. Atau, karena situasi kehidupan yang kian karut marut. Emosi para pengguna jalan bisa muncul tiba-tiba. Ada yang main kepruk, ada yang adu sikut, bahkan ada yang main tembak. Ngeri.

Beringasnya jalan raya kita bahkan terpotret oleh bertumbangannya 70-an pengguna jalan akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, pemicu utama hadirnya petaka jalan raya itu lantaran sang pelaku berkendara ugal-ugalan. Berkendara yang melanggar aturan demi kepentingan diri sendiri membuka celah terjadinya kecelakaan. Misal, menerobos lampu merah atau melawan arus.

Tidak jarang, perilaku seperti itu juga membuat terjadinya gesekan sesama pengguna jalan. Pertanyaannya, bagaimana meredam emosi yang meletup-letup itu.

Saya pernah menulis di artikel sebelumnya soal upaya meredam emosi saat berkendara di jalan raya. Saya tuangkan lagi di tulisan ini semoga bisa menyegarkan ingatan kita sekaligus mendorong kita untuk sudi berlalulintas jalan yang lebih humanis.

Berikut ini sejumlah upaya meredam emosi saat berkendara yang menjadi pilihan saya.

1. Berpikir Positif
Nah, guna meredam emosi saat berkendara langkah awal yang amat penting adalah dengan berpikir logis. Dalam contoh kasus di atas, pikiran logis yang bisa didorong keluar adalah; “Apa manfaatnya saya mengejar sang pemotong jalur?”
Lalu, “Apakah dengan memarahi dan mengumpat sang pelaku bisa mengubah perilaku ugal-ugalan dia dalam sekejap?”
Atau, “Kalau saya mengejar dengan tergesa-gesa dan tidak berkonsentrasi bisa bikin celaka diri sendiri dan orang lain.”

2. Bertindak Tenang
Redakan sejenak pikiran, yakni sekitar lima detik seraya menarik nafas panjang. Di masyarakat kita kerap disebut dengan istighfar. Lewat istighfar bisa mengurangi sesaknya emosi dan selanjutnya bisa menjernihkan pikiran. Tentu selanjutnya disalurkan lewat tindakan yang positif. Bukan diluapkan dengan emosi yang meledak-ledak.

3. Prioritaskan Keselamatan
Camkan bahwa keselamatan saat berkendara tak semata untuk diri sang pengendara. Ada hak pengguna jalan yang lain untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan yang sama. Bahkan, ada keluarga tercinta yang membutuhkan keselamatan kita kembali ke rumah.

4. Mendoakan Kebaikan
Mendoakan agar pengguna jalan mendapat keselamatan saat berlalu lintas jalan. Mendoakan agar perilaku ugal-ugalan bisa diubah menjadi lebih santun dan tidak membahayakan orang lain. Cara ini efektif untuk meredam emosi kita kala berkendara. Mendoakan orang lain tidak ada ruginya malah bisa membuat diri kita tenang saat berkendara. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 18 Februari 2016 00:14

    Ngeri bener….

    http://singindo.com/2016/02/18/setengah-tua-aja-cantiknya-seperti-ini-bagaimana-mudanya/

  2. 18 Februari 2016 16:40

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: