Skip to content

Antusiasme yang Membanggakan dari Kopdar JMO

16 Februari 2016

jmo kopdar 1

MALAM terus bergulir. Kedai Surabi Bandung di bilangan Jakarta Selatan masih ramai oleh puluhan anggota kelompok pesepeda motor. Sang tuan rumah, Jakarta Max Owners (JMO) dengan ramah menyambut para tamunya.

“Kami senang teman-teman bikers lain hadir ke Kopdar JMO,” tutur bro Acho, sosok berpengaruh di kelompok pemilik sepeda motor Yamaha NMax itu, Jumat, 12 Februari 2016 malam.

Bro Acho pula yang mengundang saya untuk berbagi topik keselamatan jalan (road safety) kepada peserta kopdar. Dibantu proyektor yang menampilkan paparan ajakan berlalu lintas jalan yang humanis membuat suasana kopdar menjadi lebih klop. Perhatian peserta yang duduk di dalam kedai menjadi lebih fokus.

Malam itu saya menekankan pada pentingnya mengedepankan keadaban kita sebagai manusia ketika berkendara di jalan raya. Lewat perilaku yang saling berbagi ruas jalan diharapkan mampu memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Tentu dibarengi dengan pemahaman aturan serta kemauan untuk melaksanakannya. Sedangkan sebagai fondasi adalah ketrampilan berkendara yang memenuhi syarat.

Fakta data memperlihatkan bahwa dua hal besar yang memicu kecelakaan di jalan adalah lengah saat mengemudi dan berkendara tidak tertib.

“Lantas kelompok usia mana yang menjadi pelaku kecelakaan terbanyak di jalan raya kita,” tanya bro Iwan dalam ajang tanya jawab.

Hampir di seluruh wilayah Indonesia pelaku kecelakaan yang dominan adalah usia muda, yakni usia dua puluhan hingga tiga puluhan tahun. Walau belakangan usia remaja di bawah umur mengalami tren meningkat, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Tentu ada sejumlah alasan kenapa hal itu terjadi. “Semestinya jangan dipermudah penerbitan SIM C untuk sepeda motor,” kata bro Tyas.

Dalam kopdar JMO kali ini juga mencuat sejumlah pertanyaan lain. Walau diskusi informal malam itu tak lebih dari dua jam, sembilan pertanyaan yang muncul cukup tajam dan masalah keseharian yang dihadapi para pengendara. Sungguh suatu antusiasme yang membanggakan. Suatu indikasi tingginya kepedulian mereka terhadap urusan keselamatan di jalan raya.

jmo kopdar 2016

Sebut saja misalnya soal perbedaan defenisi parkir dan berhenti (setop). Atau, bagaimana cara berkendara iring-iringan. Khususnya soal iring-iringan, dalam diskusi malam itu saya lontarkan soal pentingnya untuk membagi kelompok agar tidak membentuk rangkaian panjang di jalan raya. Rangkaian yang panjang, apalagi ditambah permintaan prioritas, berpotensi mengganggu kenyamanan para pengguna jalan yang lain.

Saat jarum jam memasuki tengah malam, diskusi diakhiri mengingat jadwal buka kedai Surabi Bandung juga mendekati masa akhir. Kedai yang menjajakan kudapan khas kota Bandung itu membuat suasana diskusi mengalir cukup nyaman. Peserta yang tidak tertampung di dalam ruangan, terpaksa mengikuti jalannya diskusi di bagian luar kedai.

Ketika dinihari mulai hadir, diskusi pun ditutup. Para peserta mulai berpamitan sebelum ditandai dengan foto bersama. Oh ya, sebelum mengakhiri diskusi sempat saya membagikan stiker dan gelang keselamatan jalan bertajuk I Wanna Get Home Safely (IWGHS). “Terimakasi eyah Edo gelangnya, untuk mengingatkan kita agar senantiasa berlalu lintas jalan yang aman dan selamat,” ujar seorang peserta. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 17 Februari 2016 17:25

    kapan MTRI dikasih wejangan eyang….?

    • 17 Februari 2016 20:47

      siiaapp, nunggu diundang MTRI 🙂

  2. fahmi zizkuler permalink
    18 Februari 2016 10:04

    keren eang edo . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: