Skip to content

Ini Lima Jurus Polisi Atasi Kemacetan dan Kecelakaan di Jakarta

14 Februari 2016

lalin jakarta

KEMACETAN dan kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta seakan enggan menyingkir. Keduanya selalu hadir mengiringi hari dan geliat kota yang tak pernah tertidur itu.
Khusus soal kecelakaan, pada 2015, kasus kecelakaan meningkat sekitar 8% menjadi sekitar 18 kasus per hari.

Kasubdit Bin Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulis yang saya terima, di Jakarta, Sabtu (13/2) siang, menyebutkan bahwa kemacetan merupakan situasi klasik, terutama di kota-kota besar termasuk Jakarta yang sampai sekarang belum terpecahkan secara maksimal.

Menurut dia, berbicara masalah lalu lintas dan angkutan jalan bukan sekadar perpindahan orang, barang, dan kendaraan pada ruang lalu lintas. Namun, mencakup dimensi yang lebih luas karena berhubungan dengan urat nadi kehidupan, cermin budaya, dan modernitas.
Jakarta dan sekitarnya, yakni Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), kini dihuni 18,7 juta kendaraan bermotor. Jangan bandingkan dengan tahun 1970-an yang tentu saja populasi penduduk dan pertumbuhan ekonominya tak sedahsyat saat ini. “Tahun 2015, jumlah kendaraan bermotor tumbuh 7%,” papar dia.

Budiyanto menuturkan, problematika yang terjadi di kota-kota besar termasuk Jakarta adalah masalah kemacetan yang dilatar belakangi berbagai faktor. Pertama, perkembangan kendaraan bermotor yang sulit dikendalikan, yakni berkisar 7-9% per tahun. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur hanya berkisar 0,01% per tahun. “Sehingga sering dihadapkan kepada volume kendaraan melebihi kapasitas jalan,” tegasnya.

Kedua, masih ada infrastruktur yang digunakan tidak pada peruntukannya. Contohnya, kata dia, trotoar yang seharusnya digunakan untuk pedestrian justeru digunakan untuk pedagang kaki lima dan pangkalan ojek.

Ketiga, kesadaran masyarakat pengguna jalan relatif masih rendah. Sebagai contoh, pada saat dihadapkan situasi macet, pengguna jalan saling serobot dan melawan arus. “Keempat, sinergitas pemangku kepentingan belum berjalan maksimal,” ujarnya.

Kelima, Forum Lalu Lintas sebagai wahana untuk membahas permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan belum berjalan maksimal. Dan, keenam, penegakan hukum belum maksimal.

Karena itu, ujar Budiyanto, pihaknya mengusulkan solusi mengatasi kemacetan yang mencakup;

Pertama, pengendalian pertumbuhan kendaraan bermotor, disesuaikan dengan perkembangan pembangunan infrastrutur.

Kedua, membangun kultur masyarakat untuk tertib hukum dengan melibatkan seluruh para pemangku kepentingan (stake holders) dengan melakukan edukasi pada kelompok masyarakat yang terorganisasi maupun tidak.

Ketiga, membangun sinergitas yang kuat pada seluruh stake holders dengan mengesampingkan ego sektoral.

Keempat, harus ada komitmen yang kuat dari semua pilar penegak hukum sehingga menghasilkan nilai tambah pada kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan,” tegas dia.

Kelima, Forum Lalu Lintas sebagai wahana untuk membahas permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan supaya dimaksimalkan. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. Ivan permalink
    15 Februari 2016 13:32

    Hmmm.. Penegakan hukum jadi no.4..

  2. 17 Februari 2016 16:17

    “.. Pertama, pengendalian pertumbuhan kendaraan bermotor,..”

    Saya setuju, dan ini akan menunjukkan kewibawaan regulator/pemerintah dimata kapitalis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s