Skip to content

Ini Senggolan di Jalan yang Berdampak Fatal

11 Februari 2016

jenazah_shutterstock

JALAN raya punya sejuta misteri. Ada kisah relawan yang rela mendedikasikan waktu memunguti ranjau paku demi kenyamanan pengguna jalan. Bahkan, ada kisah runtuhnya tiang ekonomi karena kepala keluarga direnggut petaka jalan raya. Dari beragam kisah itu kita memetik satu pelajaran berharga, senantiasa waspada ketika berkendara.

Kisah Ramantyo, kita sapa saja demikian, menjadi salah satu misteri di jalan raya. Semua berawal ketika pria beristeri itu menunggang kuda besi di jalan raya. Siang itu lalu lintas jalan terpantau ramai lancar. Cuaca pun terlihat cerah dengan sedikit awan menghiasi langit. Dia pun melaju dengan kecepatan normal, yakni 50 kilometer per jam (kpj).

Di salah satu titik jalan yang dilintasinya, Ramantyo dikejutkan oleh kehadiran pedestrian. “Saya melihat, tapi karena sudah dekat sulit menghindar,” urainya.

Kejadian selanjutnya adalah sang pedestrian tersenggol oleh setang sepeda motor bagian kiri. Kuda besi terjatuh, terlebih sang pedestrian. Orang-orang pun sibuk menolong pedestrian yang terluka di kepala.

Pertolongan yang diberikan untuk mengobati luka pedestrian tak membuahkan hasil maksimal. Nasib berkata lain, sang pedestrian meninggal dunia. Ramantyo pun bertemu dengan pihak keluarga korban sebagai rasa empati, termasuk memberi sejumlah santunan. Selain itu, membuat perjanjian damai dengan keluarga korban. Bahkan, dalam salah satu surat perjanjian itu keluarga korban tak akan menuntut sang pelaku kecelakaan. Belakangan surat perjanjian itu meringankan Ramantyo atas vonis yang dibuat oleh majelis hakim.

Ya. Senggolan yang berakibat fatal tersebut membawa Ramantyo ke meja hijau. Setelah melewati sejumlah proses persidangan, keputusan akhir majelis hakim menetapkan bahwa pria muda itu dipidana penjara enam bulan dengan masa percobaan 10 bulan.

“Pidana yang dijatuhkan bukan untuk menurunkan derajat manusia, akan tetapi bersifat edukatif, motifatif agar terdakwa tidak melakukannya lagi, serta preventif bagi masyarakat lainnya serta sebagai pelajaran agar masyarakat untuk tidak melakukan tindak pidana tersebut,” tutur majelis hakim.

Oh ya, Ramantyo dijerat dengan pasal 310 ayat (4) Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan itu dengan tegas membidik sang pelaku kecelakaan dengan sanksi hukuman pidana dan denda. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: