Skip to content

Solidaritas Anak Jalanan Jakarta

6 Februari 2016

dorong mobil1
KERASNYA kehidupan Jakarta setiap saat bisa dijajal. Sampai-sampai ada anekdot, “Nyari duit di Jakarta itu susah. Jangankan yang halal, yang haram saja susah.”

Jalan raya termasuk sudut yang mudah untuk melihat kerasnya kehidupan Jakarta. Ulah para kriminal mempertontonkan adegan perampasan hingga penghilangan nyawa orang. Lalu, hampir tiap tiga jam satu sepeda motor raib digondol si tangan panjang. Bahkan, eksploitasi anak-anak di bawah umur amat kasat mata di jalan raya Jakarta.

Wajah kekerasan lainnya adalah bertumbangannya anak Jakarta akibat sang jagal jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari ada 20-an kasus tabrakan yang berujung pada tewasnya dua hingga tiga orang setiap hari. Inilah salah satu wajah kelam jalan raya Jakarta.

Bila ditelisik lebih jauh, ujung-ujungnya si biang kerok kecelakaan ada pada urusan perilaku para pengguna jalan. Ada perilaku ugal-ugalan yang meluluhlantakan aturan yang ada. Serobot sana, serobot sini. Sikut sana, sikut sini. Mereka berlomba-lomba memenuhi hasrat egoisme masing-masing dengan berlindung di balik jargon ingin buru-buru.

Perilaku ugal-ugalan yang tidak lagi menghargai hak sesama pengguna jalan lahir bukan tiba-tiba. Dia lahir lewat proses hedonisme yang menggila. Ingin hidup senang tanpa lewat kerja keras. Buntutnya, senantiasa mencari jalan pintas. Jalan penuh berlumur arogansi.

Di tengah itu semua, anak-anak Jakarta masih menyimpan kepekaan sosial. Sisa-sia solidaritas masih bersemi walau kalah gaung dengan kelakuan arogan. Pernah suatu ketika saya menjumpai bagaimana anak-anak di jalanan dengan sukarela menolong sesama pengguna jalan yang sedang kesusahan.

Saat itu, arus lalu lintas jalan di pinggiran Jakarta tengah karut marut lantaran banjir menggenangi jalan raya. Antrean kendaraan simpang siur. Tampak sebuah angkutan kota (angkot) mengalami mogok. Mesinnya tidak berfungsi dan mobil pun terpaksa teronggok di pinggir jalan. Tiba-tiba sejumlah remaja yang tubuhnya sudah basah diguyur hujan hadir membantu sang sopir untuk mendorong agar mesin mobilnya bisa menyala kembali.

Ya. Solidaritas anak-anak Jakarta masih ada. Saya juga yakin mereka jumlahnya cukup banyak. Tinggal bagaimana figur orang tua, para tokoh masyarakat, hingga para penegak hukum mampu memberi contoh teladan kepada mereka. Merangsang solidaritas ke arah yang positif. Mengajak mereka mampu menjadi pilar terwujudnya lalu lintas jalan yang humanis. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: