Lanjut ke konten

Zaman Edan di Jalan Raya

5 Februari 2016

berita kecelakaan koran

SEORANG eksekutif di perusahaan swasta bertutur soal edannya jalan raya. Ada pesepeda motor yang mengarahkan kaki ke pengendara mobil sambil melaju kencang. Entah apa yang diinginkan pesepeda motor tersebut, pastinya pengendara mobil memilih sedikit minggir.

Pada bagian lain, ada pengemudi angkutan umum yang seenaknya saja menurunkan dan menaikkan penumpang. “Pernah saya lihat, penumpangnnya ke tengah jalan, selain bisa menimbulkan celaka juga bikin macet arus kendaraan,” selorohnya suatu ketika di Jakarta.

Adegan lain pun terekam di benaknya. Pengendara mobil dalam kondisi mabuk memaksakan diri mengemudi. Buntutnya, terjadi kecelakaan lalu lintas jalan yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Dia juga bercerita soal pengalamannya pada tahun 1980-an. Saat mengendarai mobil, dia pernah membunyikan klakson kepada pesepeda motor agar tidak menghalangi jalan. Kini, tahun 2016, justeru para pesepeda motor yang mengklakson dirinya untuk meminta jalan.

Ya. inilah zaman edan di jalan raya.

* * *

Kesemua itu tak bisa dilepaskan dari terus meningkatnya jumlah populasi penduduk di kota-kota. Selain itu, juga dipicu oleh kian tingginya populasi kendaraan bermotor.

Kepadatan kendaraan bermotor di jalan raya tahun 1980-an tentu amat berbeda dengan tahun 2016. Data yang beredar menyebutkan bahwa tak kurang dari 100 juta kendaraan di negara kita. Kehidupan sosial ekonomi pun terus berkembang pada saat ini.

Di kota-kota kehidupan masyarakat serba bergegas. Mau makan cari yang cepat saji. Mau naik karir cari jalan pintas. Biar cepat dapat proyek kasih uang pelicin.

Di jalan raya? Tak heran ada aksi saling serobot. Belum juga lampu hijau menyala sudah tancap gas. Atau, ketika kena razia pilih menempuh jalan damai asal urusan bisa lancar. Bahkan, tak sedikit yang berani mempertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya demi kepentingan pribadi. Jadilah jalan raya kita diwarnai dengan meninggalnya 70-an anak negeri akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Pertanyaannya, bisakah kita menjadi lebih manusiawi di jalan raya? Mampukah kita mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis?

Semestinya bisa. (edo rusyanto)

5 Komentar leave one →
  1. zegavons permalink
    5 Februari 2016 19:24

    Iya cukup prihatin… dan kenapa ini semua terjadi secara masal… kalau jalan saja merebut hak orang lain, apalagi rejeki.

  2. hidup permalink
    6 Februari 2016 09:56

    rejeki gak akan ada yang merebut karna allah sudah mengatur semuah rejeki kita !!!
    kalo gak tau gk usah komen mas !!!
    sok”an komen tp salah -_-

  3. 6 Februari 2016 10:01

    itulah indonesia raya…..
    pengendara hanya bisa pakenya doang tanpa tau aturannya…
    bikin SIM juga kan bisa NEMBAK.. jadi gak tau rambu2…
    jadi jalan raya itu ibarat hutan rimba… tinggal kita memilih mau jadi apa….

  4. 6 Februari 2016 10:59

    di indonesia hal yang sangat penting dihilangkan oleh reformasi “MORAL”

  5. endta permalink
    6 Februari 2016 19:01

    wah itu sy tiap hr nemuin maaf2 aja bagi pengendara sepeda motor trutama memang tidak smua pengendara roda 4 jg bnr tp 80% yg slalu menyalah gunakan rambu itu ya roda 2…lawan arah contohnya skrg didpn polisi aja mrk cuek pdhl scra ga sadar kadang yg bikin kemacetan itu ya roda 2 krn lawn arah…nyebrang lngsung scra ga langsung memksa mobil utk berenti…dan kalo ditegor mereka lbh galak luxunya lg kendaraan sy prnh ditendng krn dia lawan arah dan tidak bisa jalan kehalang oleh sy…pas sy turun langsung kabur hahahaa ga beda jauh ma pekerja yg dimulai dgn kata M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: