Skip to content

9% Korban Tabrak Lari Berujung Kematian

2 Februari 2016

laka motor_tmcpoldametro

TAHUN 2015, kasus tabrak lari di Jakarta dan sekitarnya melonjak 19% menjadi lima kasus per hari dibandingkan setahun sebelumnya. Sekitar 9% korban kasus tabrak lari di jalan raya berujung pada kematian.

“Data tabrak lari relatif cukup tinggi menjadi indikator bahwa kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan hukum relatif masih rendah,” ujar Kasubdit bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulisnya, di Jakarta, Senin (1/2) malam.

Wilayah Polda Metro Jaya mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Tahun 2015, setiap hari rata-rata terjadi lima kasus tabrak lari. Sedangkan setahun sebelumnya rerata empat kasus per hari.

“Tabrak lari adalah termasuk dalam tindak pidana kejahatan,” tegas Budiyanto.

Dia menambahkan, tabrak lari melanggar pasal 316 ayat ( 2 ) UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ)

Di sisi lain, data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan yang pelakunya melarikan diri tercatat menurun pada 2015. Pada 2014, sekitar 11% korban tabrak lari berujung pada kematian, sedangkan tahun 2015 tercatat 9% korban tabrak lari berujung pada kematian.

Ketentuan Pidana

Budiyanto menjelaskan, tindak pidana bisa berupa tindak pidana pelanggaran maupun tindak pidana kejahatan. Dalam pasal 316 UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ, ketentuan pidana dikelompokan dalam tindak pidana pelanggaran dan tindak pidana kejahatan.

“Yang termasuk dalam tindak pidana kejahatan antara lain Psl 273,275 ayat ( 2 ) psl 277, psl 310, psl 311, dan psl 312 yakni tabrak lari. Di luar pasal tindak pidana kejahatan tersebut berarti tindak pidana pelanggaran,” jelas dia.

Terkait kecelakaan lalu lintas jalan, tambahnya, dalam pasal 231 UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ ditegaskan bahwa pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas wajib menghentikan kendaraan. Lalu, memberikan pertolongan kepada korban dan melaporkan kecelakaan kepada Kepolisian Negara RI. “Selain itu, memberikan keterangan yang terkait dengan kecelakaan,” tutur Budiyanto.

Sementara itu, ketentuan pidana terkait tabrak lari diatur dalam pasal 312 UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ. Pasal itu menegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya. Lalu, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara RI terdekat tanpa alasan yang patut dapat dipidana penjara paling lama tiga tahun. Atau, denda paling banyak Rp 75 juta.

“Tabrak lari merupakan tindak pidana kejahatan. Dari data yang ada bahwa kasus tabrak lari masih menunjukan angka yang relatif cukup tinggi. Ini menjadi salah satu indikator bahwa kesadaran masyarakat untuk patuh terhadap hukum relatif masih rendah,” tegasnya. (edorusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. underyoke permalink
    2 Februari 2016 17:36

    Pernah sekali, lagi riding jam 1 pagi……..
    lihat perempuan bawa mio diserempet mobil pas belokan Ciputat, saya kejar pelaku.. pelaku ketangkep, eh.. korbannya udah ga ada di KTP….
    😀

    • 2 Februari 2016 17:42

      walah…jangan-jangan…..?

  2. 18 Februari 2016 16:42

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: