Lanjut ke konten

Waspadai Tikungan Tajam, Apalagi Cuaca Berkabut

29 Januari 2016

jalan berkabut

PADA suatu ketika kami bersepeda motor melintasi kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Cuaca hujan. Kabut bertebaran dimana-mana. Sudah tentu kondisi permukaan jalan licin.

Kawasan wisata favorit di Jawa Barat itu punya segudang tikungan. Ada yang kategorinya biasa-biasa saja, tapi jarang berupa tikungan tajam. Bahkan, lazimnya kondisi pegunungan, tikungan-tikungan tadi dilengkapi dengan kontur menurun atau menanjak. Lengkaplah.

Saat melintasi tikungan, terlebih tikungan tajam, setiap pengendara bukan saja dituntut hati-hati, tapi juga punya ketrampilan. Untuk mengambil keputusan manuver apa yang harus dilakukan, pengendara butuh informasi yang memadai saat melintasi jalan yang akan dilalui. Bila asal betot gas itu namanya spekulasi. Masa sih keselamatan kita digadaikan oleh ulah spekulatif?

Di jalan raya, amat berisiko mendahului di tikungan, terlebih tikungan tajam. Berbeda dengan di sirkuit balap yang memanfaatkan tikungan sebagai salah satu jurus jitu memenangi adu kebut. Di jalan raya, terutama yang dua arah, risiko kecelakaan adu banteng amat terbuka ketika mendahului di tikungan. Dalam hal ini upaya yang bisa dilakukan adalah memupuk rasa sabar ketimbang mengumbar emosi.

Jangan lupa, tikungan tajam menempati urutan keenam terbesar di faktor jalan yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Setiap hari, rata-rata ada dua kasus kecelakaan yang dipicu oleh kondisi tikungan tajam.

Mengenali jalur jalan yang akan dilintasi menjadi bekal kita dalam menelusuri jalan. Karena itu, pandangan pengendara tidak boleh terhalang untuk merangkum informasi di depan sebelum akhirnya memutuskan manuver yang tepat. Sekadar mengingatkan kita, pandangan yang terhalang merupakan salah satu faktor pemicu kecelakaan di negara kita.

Pandangan yang terhalang menempati urutan kelima terbesar di faktor jalan. Gara-gara pandangan pengendara terhalang, setiap hari terjadi rata-rata dua kasus kecelakaan di jalan.

Nah, di tikungan tajam, lalu pandangan yang terhalang, kemudian ditambah cuaca hujan dan kabut bertebaran dimana-mana, risiko terjadinya kecelakaan demikian besar jika pengendara sembrono. Bagi kita para pesepeda motor, hal itu lebih ringkih lagi. Sepeda motor yang rodanya hanya dua lebih mudah tergelincir di jalan yang licin.

Oh ya, jalan yang licin ikut memicu terjadinya kecelakaan. Setiap hari, rata-rata ada satu kasus kecelakaan yang terjadi akibat jalan licin.

Sekali lagi, bila diakumulasikan, di tikungan tajam yang amat mungkin pandangan pengendara terhalang, serta jalannya licin, setiap hari rata-rata ada lima kasus kecelakaan. Itu asumsi saya.

Konkretnya, ekstra waspada ketika melintas di tikungan tajam, terlebih saat hujan, menjadi jurus penting memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Setidaknya sebagai ikhtiar kita menghindar dari tajamnya taring petaka jalan raya. (edo rusyanto)

One Comment leave one →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: