Skip to content

Menelusuri Wisata Sejarah di Kota Bandung

16 Januari 2016

gedung sate suasana 2015

TULISAN ini terinspirasi ketika pada penghujung Desember 2015 saya singgah ke kota Bandung. Ternyata, Bandung memang punya segudang magnet bagi wisatawan.

Seabrek pilihan jenis wisata ada di ibu kota provinsi Jawa Barat tersebut. Wisatawan punya beragam pilihan, mulai dari wisata alam, kuliner, seni dan budaya, hingga wisata sejarah. Tinggal pilih dan nikmati.

Bagi peminat wisata sejarah, inilah salah satu kota yang menyimpan memori luar biasa bagi perjalanan bangsa Indonesia. Bahkan, bagi sejarah bangsa-bangsa di benua Asia dan Afrika.

Salah satu titik wisata sejarah yang sayang jika dilewatkan begitu saja ketika singgah ke Bandung adalah Museum Asia Afrika. Bangunan ini bagian dari Gedung Merdeka yang menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955.


Museum Asia Afrika

Gedung Merdeka merupakan tempat berlangsungnya sidang utama KAA, sedangkan museum yang berada disampingnya menjadi tempat memorabilia peristiwa bersejarah yang mengobarkan semangat bangsa-bangsa di benua Asia dan Afrika tersebut.

Gedung Merdeka semula bernama Societeit Concordia. Pembangunan gedung ini berjalan seiring dengan rencana perpindahan ibu kota Hindia Belanda dari kota Batavia ke Bandung pada 1920.
Gedung berwarna putih dengan arsitektur kolonial Belanda itu kini terletak di Jl Asia Afrika No 65, Bandung. Museum ini diresmikan pada 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 tahun KAA.

Wisatawan dapat mengunjungi museum dengan jadwal yang telah dibuat oleh pengelola. Setiap Selasa-Kamis pengunjung bisa menikmati wisata sejarah dalam rentang pukul 08.00-16.00 WIB. Lalu, Jumat pada 14.00-16.00 WIB, sedangkan pada Sabtu-Minggu pada rentang pukul 09.00-16.00 WIB. Museum diliburkan pada Senin, selain pada hari-hari libur nasional.

Pengunjung bisa merasakan aura bagaimana semangat para pemimpin Asia-Afrika untuk mengobarkan semangat anti penjajahan seperti tertuang dalam Dasasila Bandung. Simak saja misalnya, dua dari Dasasila tersebut, yakni menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara. Dan, mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil. Dasasila digaungkan sebagai hasil KAA yang digelar sepanjang 18 sampai dengan 24 April 1955.

Presiden Indonesia saat itu, yakni Soekarno, mengucapkan pidato pembukaan yang berjudul “Let a New Asia And a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Dalam kesempatan tersebut Presiden Soekarno menyatakan bahwa kita, peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia.

Pada bagian akhir pidatonya beliau mengatakan : “Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

gedung merdeka bandung_kemendikbud

“Pidato tersebut berhasil menarik perhatian dan mempengaruhi hadirin yang dibuktikan dengan adanya usul Perdana Menteri India dan didukung oleh semua peserta konferensi untuk mengirimkan pesan ucapan terimakasih kepada presiden atas pidato pembukaannya,” tulis laman asianafricanmusum.org.

Gedung Sate

Gedung lain yang menjadi daya pikat wisata sejarah adalah Gedung Sate yang kini menjadi kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Gedung berwarna putih itu berdiri kokoh. Bagian atapnya dihiasi ornamen ukiran kayu jati berumur hampir 100 tahun.

“Pengukir utamanya 150 orang yang didatangkan dari Tiongkok,” ujar Oki seorang pemandu yang menemani saya saat, berkunjung ke Gedung Sate, beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, para pengukir Tiongkok kemudian dibantu tenaga lokal dari Bandung dan sekitarnya. Pembangunan Gedung Sate berlangsung sepanjang 1920 hingga 1924. “Pembangunannya melibatkan 2.000 pekerja dan menghabiskan dana enam juta Gulden,” papar pria muda itu bersemangat.

Kuat dan utuhnya Gedung Sate hingga kini, seperti dikutip dari wikipedia, tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai. Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi bangunan Gedung Sate menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 meter persegi (m2), luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m², dan teras menara 205,169 m².

Di puncaknya terdapat “tusuk sate” dengan enam buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden, yakni biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Masih banyak sejarah yang tersimpan di Kota Bandung. Namun, dua gedung bersejarah itu menjadi saksi bahwa Bandung merupakan salah satu kota penting bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Selamat berkunjung. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: