Skip to content

Nestapa Sepulang Berjualan

13 Januari 2016

truk di jalan tol

KITA tak pernah tahu apa yang bakal terjadi hari ini, apalagi besok. Di jalan raya, semua bisa terjadi.

Apa yang dialami oleh Liandian, kita sapa saja demikian, nyaris tak pernah terpikirkan sebelumnya. Mobil yang dikendarainya dalam kondisi fit siang itu. Kondisi ban bagus, tekanan angin cukup, hingga kondisi rem pun cukup prima. Namun, lantaran terkejut semua menjadi runyam.

Peristiwa buruk yang dialami pria muda itu terjadi ketika dia sepulang berdagang di kota. Selain dirinya, di bagian depan mobil boks itu ada dua rekannya.

Terik matahari persis di ubun-ubun dan jalan raya cukup mulus. Arus kendaraan ramai lancar. Keterkejutan yang belakangan membawanya menjadi pesakitan di pengadilan berawal ketika tiba-tiba muncul sepeda motor yang memotong dari arah kiri hendak ke kanan jalan. Liandian baru menyadari kehadiran pesepeda motor itu ketika sudah berjarak sekitar lima meter.

Sontak dia banting ke kanan, tanpa sempat mengerem dan membunyikan klakson. Namun, benturan tetap terjadi brak!

Situasi membuat Liandian kian panik. Di benaknya berkecamuk rasa takut diamuk oleh massa. Tidak sempat menolong sang korban, dia pun bergegas menuju kantor polisi untuk menyerahkan diri.

Pesepeda motor yang terluka ditolong warga dibawa ke Puskesmas untuk mendapat pertolongan. Petugas yang di Puskesmas merujuk untuk dibawa ke rumah sakit. Belum tiba di rumah sakit korban menghembuskan nafas. Korban terluka dan terutama di bagian kepala.

Sekitar tiga bulan proses pengadilan harus dilalui oleh Liandian. Di sisi lain, telah terjadi perdamaian antara keluarga korban dengan terdakwa dan keluarga terdakwa memberi santunan. Bahkan, keluarga korban meminta kepada penegak hukum agar pelaku tidak dihukum atau diringankan hukumannya. Keluarga korban sudah menerima kejadian sebagai takdir.

Namun, hukum terus bergulir dan Liandian dibidik dengan Pasal 310 ayat (4) Undang Undang Nomor 22 tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Hingga akhirnya majelis hakim memvonisnya dengan hukuman penjara dua bulan 20 hari serta denda Rp 1 juta. Vonis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yang mengajukan tuntutan penjara lima bulan.

Di pengadilan dari dua hal yang memberatkan terdakwa, salah satunya adalah terdakwa tidak membunyikan klakson. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 13 Januari 2016 16:20

    tk ad yg menginginkan sbuah kecelakaan terjadi.. menjadi pembalajarn bg kta smua.

    http://kasamago.com/netflix-masuk-ke-indonesia-bagaimana-pengaruhnya/

  2. 13 Januari 2016 21:52

    Biasanya pemotor yg salah, biasanya ya, saya akui dan lihat di jalanan, banyak pemotor yang sembrono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: